Indonesia sebenarnya tampil beda di laga puncak. Skuat arahan Indra Sjafri yang sempat bermain bertahan lawan Vietnam di babak penyisihan grup, justru tampil atraktif sejak menit awal.
Vietnam bahkan terpaksa bertahan dengan dalam untuk meredam serangan agresif pemain Indonesia. Namun, cara bertahan Vietnam sungguh tak biasa. Hampir seluruh pemain seakan berniat mencederai lawan.
Bukti pertama adalah cedera evan dimas darmono yang terjadi di awal-awal laga, tepatnya di menit ke-20. Playmaker Indonesia itu terkapar setelah pergelangan kakinya diinjak bek Vietnam Doan Van Hau.
Evan yang sudah melepas bola malah ditabrak Van Hau. Sontak, pemain Barito Putera itu meringis kesakitan di tengah lapangan sebelum akhirnya dipapah keluar. Ia menangis dan harus ditenangkan sang pelatih Indra Sjafri.
Wasit memang memberhentikan pertandingan tanda pelanggaran. Tapi, ia tidak memberikan sanksi kepada Van Hau yang tampil beringas.
Insiden berikutnya, Saddil Ramdani mendapat intimidasi dari lawan. Winger Indonesia itu terkapar sambil memegangi leher setelah pergerakannya diblok Huynh Tan Sinh.
Wasit belum mengeluarkan kartu meski ia meniup peluit tanda pelangaran terjadi.
Gerakan menyikut lawan tampaknya jadi andalan Tan Sinh untuk menghentikan pergerakan lawan. Di babak kedua, pemain bernomor punggung tiga ini juga melakukannya kepada Firza Andika dalam duel satu lawan satu di sudut lapangan.
Wasit tak menganggap hal ini sebagai pelanggaran. Padahal dalam tayangan ulang Tan Sinh dengan jelas sengaja menyikut Firza yang membayanginya dari belakang.
Egy Maulana Vikri yang masuk di babak kedua, juga tak lepas dari aksi barbar pemain lawan. Ia juga sempat memegangi lehernya usai disikut bek Vietnam.
Sejumlah pelanggaran keras menjurus kasar tampaknya jadi bagian taktik yang diminta pelatih Park Hang Seo. Sebab, dari segi kualitas, Vietnam seharusnya bisa tampil lebih beradab.
Mereka adalah tim favorit juara yang tampil mengesankan di sepanjang turnamen. Dihuni sederet pemain berkualitas, Vietnam, mampu memainkan ball possesion dengan sangat menonjol. Indonesia juga pernah merasakannya di babak penyisihan.
Di sinilah justru letak kejeniusan Park Hang Seo. Meski sangat mampu bermain terbuka dan menyerang sejak awal, ia memilih strategi antitesis di laga final.
Mantan pemain Vietnam, Van Sy Hung, menyebut 'The Golden Star' berhasil menerapkan strategi yang menjebak Indonesia di final SEA Games 2019.
Kemenangan tersebut membuat Vietnam untuk kali pertama meraih emas sepak bola di SEA Games.
Van Sy Hung mengatakan pelatih Vietnam Park Hang Seo menerapkan taktik yang cermat dan tepat dalam laga lawan Indonesia. Vietnam menjebak Indonesia dengan membiarkan Garuda Muda lebih banyak menguasai bola dibandingkan dengan duel perdana kedua tim.
"Park meminta pemain untuk bermain tenang dan membiarkan Indonesia mengontrol bola. Indonesia memiliki lebih banyak penguasaan bola, tetapi hanya mengoper ke belakang dan bertahan di tengah lapangan. Mereka tak bisa menyerang Vietnam," ucap Van Sy Hung dikutip dari The Thao 247.
Van Sy Hung juga menyoroti keunggulan tinggi badan yang bisa dieksplorasi oleh Vietnam.
"Pemain Indonesia sangat solid, punya kecepatan, namun terbatas dalam hal tinggi badan. Pemain-pemain Vietnam mengeksploitasi kelemahan ini dengan terus-terusan mengirim umpan silang pada Nguyen Tien Linh dan Ha Duc CHinh."
"Gol pertama lahir dari situasi itu. Hung Dung melakukan umpan silang dari tendangan bebas dan Van Hau menggetarkan gawang Indonesia," kata Van Sy Hung.
Van Sy Hung lalu memuji Hang Seo yang dianggap menerapkan taktik sempurna di laga final lawan Indonesia.
"Kata sempurna adalah yang paling pas saya ucapkan untuk taktik Park Hang-seo. Indonesia punya banyak penguasaan bola tetapi tidak membuat kesempatan berbahaya."
"Sementara itu serangan Vietnam lebih sedikit tetapi bisa memaksimalkan dengan baik," ucap Van Sy Hung.
Indonesia dibiarkan menguasai bola lebih banyak. Namun, nyaris tak ada satupun pemain Indonesia, terutama di sektor sayap, yang bisa lolos begitu saja.
Formasi 3-5-2 yang dipilih Park sukses meredam serangan Indonesia yang bertumpu pada kecepatan pemain sayap. Terlebih sang metronom, Evan Dimas, juga telah 'dimatikan' lebih awal.
Permainan atraktif Indonesia praktis tersumbat setelah Evan Dimas keluar lapangan. Kreativitas serangan Indonesia pun menjadi buntu ketika menghadapi compact defense Vietnam.
Sekali lagi, Vietnam sebenarnya sangat-sangat mampu untuk bermain menyerang dan terbuka. Namun, mereka memilih tidak melakukannya di laga final. Ini merupakan kekayaan taktik dari seorang Park.
Pelatih asal Korea Selatan itu sudah membaca karakter permainan Timnas Indonesia. Bahkan mungkin saja ia sengaja menggunakan cara barbar untuk merusak mental pemain Indonesia.
Bisa jadi.