Recent Posts

KISAH MUHAMMAD SUPRIADI : Perjuangan Anak Penjual Es Teh yang Tak Mampu Beli Sepatu Bola

Muhammad Supriadi, Namanya naik daun setelah bakat dan kemampuannya kian terasah di bawah asuhan pelatih Garuda Asia, Fakhri Husaini. ... thumbnail 1 summary
kisah supriadi timnas u16


Muhammad Supriadi, Namanya naik daun setelah bakat dan kemampuannya kian terasah di bawah asuhan pelatih Garuda Asia, Fakhri Husaini.

Supriadi, menjadi salah satu pemain yang diwaspadai lawan. Kecepatan dan keberaniannya berduel dengan bek lawan, kerap membuat pemain lawan kewalahan.

Perjuangan keras yang ditempuh winger Timnas U-16 Indonesia itui berujung dengan gelar juara Piala AFF U-16 2018.

Namanya memang tak setenar Amiruddin Bagus Kahfi yang menjadi top skor Piala AFF U-16 2018 lalu



Supriadi kini menjadi buah bibir. Namun itu semua diraihnya tidak dengan mudah. Remaja yang baru berusia 17 tahun itu harus berjuang keras meraih cita-citanya sebagai seorang pesepak bola.

Perjuangan yang mungkin terbilang cukup berat bagi seorang anak demi mimpinya mengenakan lambang Garuda di dada..

Akan tetapi, perjuangan keras Mochamad Supriadi layak mendapat apresiasi yang tinggi.

Pasalnya, Mochamad Supriadi punya banyak kisah pilu sebelum tampil bersama Timnas U-16 Indonesia.

Bakat mengolah si kulit bundar memang sudah terlihat sejak Supri masih belia. Diawali dengan kiprahnya di klub lokal bernama Rungkut FC.

Pandai mengolah si kulit bundar, Supri sering diajak untuk mengikuti turnamen sekelas galadesa. Akan tetapi, meski ngiler untuk bermain, Supri sering absen. Tak punya uang, Supri yang tidak ingin membebani orangtua lebih memilih untuk menjadi penonton.

Karena di turnamen sekelas galadesa, setiap pemain ditarik iuran untuk bisa ikut serta. Para pemain baru akan mendapat uang jika tim yang mereka bela meraih gelar juara. Hadiah uang di turnamen tersebut akan dibagi rata.

"Kalau soal biaya, saya jujur tidak bisa karena bapaknya juga pekerjaannya ndak tetap. Kadang ada kadang juga tidak. Kalau ada turnamen maksud saya tidak usah ikut karena masalah uang tadi, karena bapak juga sudah sakit-sakitan," tutur Kalsum, ibu kandung Supri saat ditemui Suara.com di kediamannya

Supriadi juga sempat tak dapat restu dari ayahnya untuk menjadi pesepak bola. Larangan ini semata-mata karena sang ayah tak punya uang, karena hanya bekerja sebagai tukang bangunan dan sang ibu yang hanya berjualan es.

Namun, tak demikian dengan sang ibu yang rela menyisihkan penghasilannya demi membantu sang anak menjadi pesepak bola.

Selain itu, semangat juang Supriadi untuk menjadi pemain sepak bola professional memang tak boleh dilupakan begitu saja.

Ayah Supriadi menunjukkan sepatu bola miliknya


Dia rela menyisihkan uang saku sekolahnya hanya untuk membeli sepatu sepakbola.

Supriadi tak hanya harus menabung setiap kali mengikuti turnamen lokal bersama Rungkut FC. Salah satu pemain Timnas Indonesia yang kini bermain untuk persebaya itu juga harus pandai-pandai mengumpulkan uang agar bisa memiliki sepatu.

"Dulu Supri itu pengen punya sepatu sendiri, saya bilang saya belum bisa beliin, uang darimana. Saya cuma jualan es, bapaknya tukang bangunan yang kerjanya tak tentu," ujar Kalsum, ibunda Supri di Kalsum (58) saat ditemui detikSport di kediamannya, Kedung Asem, Rungkut Surabaya.

Menyadari kondisi keluarganya, Supri menyisihkan uang sakunya, Dia menabung Rp 2 ribu per hari. Celengan itu disimpan di tas sekolah.

Setelah 15 hari, Supri membuka tabungannya. Tidak banyak yang yang didapatkannya, cuma Rp 30 ribu. Tapi, kebutuhan sepatu mendesak. Supri pun membelanjakan sepatu termurah. Sepatu itu bisa dipakai, namun tak awet.

"Jadi Supri menabung Rp 2000 setiap harinya, itu uang saku yang saya kasih ditabungin ditaruh tas. Buat beli sepatu yang harganya Rp 30.000, tapi sepatunya ndak pernah awet karena baru dipakai sebentar langsung jebol," ujar Kalsum.

Dia pun beberapa kali membesarkan hati anaknya, karena teman-teman Supri memiliki sepatu yang bagus-bagus. Harganya pun bahkan 10 kali lipat dari sepatu yang biasa dibeli Supri. Kalsum mengatakan sepatu bukanlah hal yang penting, melainkan kemampuan bermain di lapangan, dan dapat mencetak gol yang lebih utama.

"Dia bilang sama saya 'Mak, sepatunya temanku loh bagus, merk Specs harganya Rp 300.000' saya tangisi dia, sudah nak ndak apa, wong mampunya beli yang murah. Sepatu mahal itu ndak penting, yang penting mainnya bagus, bisa mencetak gol terus," imbuh Kalsum.

Kedua orang tua Supriadi


Kebiasaan Supri pun dibawa hingga kini. Kalsum mengaku Supri kini memiliki banyak sepatu yang bagus-bagus. Tetapi dia mengaku padanya jika sayang untuk mengenakan sepatu bagus untuk latihan dan turnamen. Alhasil, dia sering memakai sepatu yang biasa saja yang sudah jelek.

"Sampai sekarang dia punya sepatu bagus-bagus, dapat dari sponsor dan dikasih orang. Tapi yang dipakai yang jelek-jelek, katanya sayang," ujar Kalsum.

Supriadi di masa lalu


Dalam perjalanan kariernya, Mochamad Supriadi pernah menjadi korban penipuan oleh oknum tak bertanggung jawab yang mengaku sebagai pencari bakat.

Oleh oknum tersebut, Mochamad Supriadi dijanjikan akan disalurkan menjadi seorang pesepak bola profesional dan diminta untuk membayar Rp 1,8 juta.

Namun, oknum itu justru menelantarkan Mochamad Supriadi di Jakarta hingga harus rela menjual sepatu dan bajunya untuk bertahan hidup.

Kehidupan Mochamad Supriadi mulai membaik setelah diajak bergabung oleh salah satu kenalannya ke Bina Taruna.

Supriadi di timnas indonesia


Kebutuhan Mochamad Supriadi pun tercukupi oleh Bina Taruna hingga mengikuti seleksi Timnas Indonesia dan direkrut oleh pelatih Fakhri Husaini.

Kini karier Mochamad Supriadi mulai meroket setelah sebelumnya membawa Tim Garuda Asia menjadi juara Piala AFF U-16 untuk pertama kalinya.

Supriadi di Timnas


Kecepatan dan kegesitan Mochamad Supriadi menjadi andalan pelatih Fakhri Husaini, juru racik Timnas U-16 Indonesia kala itu.

Beruntung, berbagai nasib buruk yang menimpa pemuda kelahiran 23 Mei 2002 itu di masa lalu tak menyurutkan semangatnya untuk menjadi bintang baru Indonesia