Recent Posts

KISAH RONALD FAGUNDEZ

Ronald Daian Fagundez Olivera lahir di Montevideo, Uruguay, 12 Mei 1979 adalah pemain Sepak bola Uruguay yang mempunyai spesialis tendangan ... thumbnail 1 summary
Ronald Daian Fagundez Olivera lahir di Montevideo, Uruguay, 12 Mei 1979 adalah pemain Sepak bola Uruguay yang mempunyai spesialis tendangan bebas dengan kaki kiri yang mematikan.

Sosok Ronald Fagundez pantas masuk dalam jajaran pemain asing terbaik yang pernah beredar di Liga Indonesia. Gelandang berdarah Uruguay ini dikenang berkat gaya main menghibur lewat gocekan dan umpannya yang terukur.

Di negaranya, ia mendapat nama panggilan Il Gatto atau Si Kucing. Panggilan ini kian melekat pada dirinya ketika bergabung di PSM Makassar, klub papan atas Indonesia yang berjuluk Juku Eja atau Ikan Merah.

Juku Eja adalah klub pertama Ronald Fagundez di Liga Indonesia musim 2004. Skill di atas rata-rata plus karakter tim Juku Eja yang mengandalkan permainan cepat dan keras membuat Il Gatto cepat beradaptasi.

Apalagi di PSM ada rekan senegaranya, Cristian Gonzales yang sudah memperkuat Juku Eja pada musim sebelumnya. Pelatih PSM saat itu, Miroslav Janu memainkan Ronald sebagai penyerang sayap kiri dengan formasi 4-4-2.

Saat bermain, Ronald tak jarang berdiri di belakang duet striker Cristian Gonzales dan Marcelo Ramos. Kolaborasi tiga pemain asal Amerika Latin plus Irsyad Aras sebagai sayap kanan membuat PSM selalu tampil dominan di setiap partai.

Apalagi ditunjang dengan mobilitas dua gelandang jangkar, Syamsul Chaeruddin dan Ponaryo Astaman. Tak ayal pada musim itu, PSM dijagokan meraih trofi juara.

Namun petaka terjadi pada putaran kedua di mana Cristian Gonzales harus mengakhiri musim lebih cepat karena terkena skorsing akibat memukul offisial Persita Tangerang kala Juku Eja melakoni laga away. PSM akhirnya gagal memenuhi ambisi juara karena kalah selisih gol dengan Persebaya Surabaya yang sama-sama meraup 61 poin.

Meski tak pernah membawa PSM meraih trofi juara Liga Indonesia, aksi Il Gatto tetap dikenang suporter Juku Eja. Seperti diungkap Andi Coklat, eks pentolan kelompok suporter PSM, The Maczman kepada Bola.com, Sabtu (2/5/2020).

Menurutnya aksi Il Gatto saat tampil bersama PSM jadi hiburan tersendiri buat suporter. Terutama saat PSM berlaga di Stadion Andi Mattattala Mattoangin. "Sepanjang pertandingan, kami selalu bersorak saat ia melewati lawan dengan mudah sebelum melepaskan umpan terukur ke striker," kata Coklat.

Setelah tiga musim memperkuat PSM, Il Gatto pindah ke Persik Kediri pada 2006-2009. 

Di persik, bersama Danilo Fernando dan Christian Gonzales Fagundez dikenal sebagai trio Amerika Latin yang berbahaya. Puncaknya adalah ketika berhasil membawa Persik Kediri juara pada tahun 2006 dan tampil di Liga Champions AFC 2007. 

Di Liga Champions AFC 2007, Persik Kediri menunjukan perlawanan sengit di grup E yang dihuni Shanghai Shenhua, Urawa Red Diamonds, dan Sydney FC. Persik Kediri berada di peringkat 3 Klasemen Grup E di bawah Urawa Red Diamonds (Juara Liga Champions AFC 2007) dan Sydney FC serta unggul diatas Shanghai Shenhua.

Musim 2009 ia hengkang ke Persisam Putra Samarinda, tetapi sayang tidak ada prestasi yang menonjol ketika Fagundez berseragam Persisam Putra Samarinda.

Setelah itu, Ia resmi meninggalkan persik dan berlabuh ke PSIS semarang. Sebelum bergabung dengan PSIS Semarang, Fagundez hampir saja bergabung dengan Persepam Madura United, tetapi cedera membuatnya batal bergabung.

AKhirnya di tengah musim 2013 ia bergabung dengan PSIS Semarang. Meskipun hanya 1,5 musim bersama PSIS Semarang, Fagundez menjadi kesayangan publik Semarang. 

Dia membawa pengaruh positif dalam permainan Laskar Mahesa Jenar bahkan ia menjadi roh permainan PSIS Semarang sejak Musim 2013.

Sayang,  di klub terakhir tersebut, Ronald 'dipaksa' pensiun sebagai pemain menyusul sanksi 5 tahun tak boleh beraktivitas di sepak bola. Itu terhitung mulai 11 November dan ditambah denda 150 juta.

Penyebabnya adalah 'partai dagelan', PSS Sleman dan PSIS Semarang pada babak delapan besar Divisi Utama Liga Indonesia 2014 musim 2014. Pada partai yang dimenangkan PSS dengan skor 3-2 itu, semua gol yang terjadi lewat proses bunuh diri atau menjebol gawang sendiri dengan sengaja. 

Baik PSS maupun PSIS sama-sama memilih untuk kalah agar terhindar dari Borneo FC yang di grup P menjadi runner up dibawah Martapura FC.

"Saya ikut kena sanksi. Padahal, saya tidak tahu apa-apa dan tidak dimainkan pada pertandingan itu," ujar Ronald kepada Bola.com di rumahnya yang berada di kawasan kota tua Makassar beberapa waktu lalu.

“Semuanya ada hikmahnya. Saya kini justru lebih dekat bersama keluarga,” imbuh Fagundez yang 2 kali mengantarkan PSM Makassar menjadi runner up di Liga Indonesia itu.

Namun Fagundez tetap mendapat tempat khusus di hati para suporter PSIS Semarang, hal itu dapat dilihat dari pertandingan uji coba pra musim melawan Arema Cronous Sabtu 28 Maret 2015. 

laga tersebut merupakan laga seremonial perpisahan Fagundez. Menurut General Manager PSIS Semarang, Adi Saputro, ”Fagundez menjadi salah satu pemain asing terbaik yang pernah dimiliki PSIS. Bertepatan dengan laga uji coba versus Arema, kami gunakan sebagai laga perisahan sekaligus penghargaan kepada Ronald atas kontribusinya untuk tim dalam dua musim terakhir ini,”. 

Bersama PSIS Semarang total ia menyumbangkan 8 gol.

Sejak bulan Februari 2018, Fagundez beserta istrinya, Nancy Kondengis, yang berasal dari Makassar lebih memilih untuk menetap di Daeng. Hari-hari kedua pasangan itu diisi demi mengasuh sang buah hati, Alexandra [6 bulan], dan Franco [12 tahun].

Selain itu, Semenjak 7 bulan terkini, kesibukannya bertambah dengan mengurus sebuah bisnis bersama sang istri yakni sebuah kedai roti di kawasan Mall Trans Makassar.  

“Kabar saya sekarang baik, saat ini saya tinggal di Makassar bersama istri dan anak laki-laki saya untuk berbisnis membuka sebuah toko roti di salah satu mall,” ujar Fagundez kepada redaksi berita olahraga INDOSPORT, Kamis (24/10/19).

Walaupun sedang menggeluti bisnis, namun ia tetap tak bisa lepas dari sepak bola. Selain masih sering melakulan turnamen tarkam, Fagundez juga tak lupa untuk selalu menyempatkan diri menonton pertandingan sepak bola ketika PSM bertanding.

Pasalnya ia mengaku bahwa separuh hidupnya tetap sepak bola dan akan berkarier di sepak bola sebagai seorang pelatih ke depannya.