Recent Posts

CERITA SELEBRASI LINTAS AGAMA PARA PEMAIN DI INDONESIA : MELANGGAR ATURAN FIFA?

Foto selebrasi lintas agama yang dilakukan pemain Bali United sampai kini masih menjadi perhatian. selebrasi tersebut dilakukan oleh Mifta... thumbnail 1 summary
Foto selebrasi lintas agama yang dilakukan pemain Bali United sampai kini masih menjadi perhatian.

selebrasi tersebut dilakukan oleh Miftahul Hamdi, Ngurah Nanak, dan Yabes Roni Malaifani.

Ketiganya merayakan gol yang dilesakkan Irfan Bachdim ke gawang Perseru Serui pada menit ke-86 dalam lanjutan Go-Jek Traveloka Liga 1 2017 di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Minggu 4 JUNI 2017'

Hamdi yang beragama Islam langsung bersujud. Sedangkan Yabes yang merupakan penganut Kristen berdoa sesuai tata cara agamanya.

Sementara itu, Ngurah yang merupakan penganut agama Hindu berdoa sambil berdiri.

Dalam agama Hindu, sikap Ngurah disebut Muspa Puyung untuk mengucapkan syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Momen itu berhasil ditangkap dengan baik oleh fotografer Radar Bali Miftahuddin Halim

Foto tersebut lantas dibagikan akun Facebook Bali United, Minggu (4/6). "Karena perbedaan keyakinan tidak akan menghalangi kami untuk mencapai tujuan yang sama," tulis akun Bali United.

Kiriman itu lekas menyebar bak virus kebaikan, dengan lebih dari 11 ribu kali dibagikan (share) dan 8 ribu tanda suka (like).

Warganet menanggapi foto tersebut dengan dengan kalimat-kalimat semboyan perihal toleransi, dan kebinekaan. Misal, yang termuat dalam beberapa komentar berikut.

Tidak seperti pesepak bola kebanyakan, tiga pemain Bali United ini berselebrasi sambil memanjatkan rasa syukur ke Tuhan Tang Maha Esa.

Uniknya, tiga pemain Bali United ini datang dari keyakinan yang berbeda.

Meski begitu mereka kompak menyampaikan rasa syukurnya meski dengan cara yang berbeda-beda.

Sehari setelahnya, foto ini semakin menjadi viral hingga KE mancanegara.

Washington Post menuliskan: "Christian, Muslim and Hindu soccer players in Indonesia use goal celebration to make political statement."

Washington Post menulis dengan judul 'Pemain sepakbola Kristen, Muslim dan Hindu di Indonesia menggunakan perayaan gol untuk membuat pernyataan politik".

Media AS tersebut menyebutkan bahwa selebrasi tiga pemain Bali United tersebut ditujukan untuk memberikan pesan politik.

Washington Post menilai bahwa selebrasi tiga pemain Bali United itu ditujukan untuk meredam situasi politik Indonesia yang terpengaruh isu SARA.

"Foto tersebut muncul pada saat yang sangat penting dalam sejarah Indonesia, karena bangkitnya faksi politik Islam yang kurang toleran di negara itu (Indonesia) dalam beberapa bulan terakhir dan mengancam pemerintahan Indonesia," tulis Washington Post.

Tidak hanya itu, Washington Post menyebutkan bahwa selebrasi tersebut bisa saja melanggar aturan FIFA.

Pasalnya FIFA telah membuat peraturan yang berbunyi: "Pemain tidak boleh mengungkapkan pakaian yang menunjukkan politik, agama, slogan pribadi, pernyataan atau gambar, atau iklan selain logo pabrikan."

Namun seperti dikutip SuperBall.id dari Washington Post, Sabtu (10/6/2017), baik FIFA maupun PSSI tidak mengeluarkan pernyataan apapun terkait selebrasi ini.

Sementara itu Vice mengangkat judul "Bagaimana Bali United Mempromosikan Kerukunan Beragama'". Perayaan gol tersebut disebut bertujuan mengingatkan orang-orang Indonesia atas komitmen bersama terhadap keragaman.

Media berbasis di Amerika Serikat itu mengungkapkan, berita sepakbola Indonesia biasanya identik dengan keributan suporter, bentrokan, atau tawuran berujung maut.

"Saya selalu menunjukkan rasa terima kasih saya setelah mencetak gol. Jika anda meminta Tuhan untuk memberi sesuatu, maka Dia akan mewujudkannya," ujar Yabes Roni mengenai gaya selebrasinya.

"Meskipun kita semua berasal dari agama dan etnis yang berbeda, kita semua adalah satu. Kita harus melindungi harmoni negara dan tetap bersatu," sambungnya.

Apa yang dilakukan oleh ketiga pemain Bali United tersebut memang wajar dan sering dilakukan pesepakbola untuk merayakan dan mengcuap syukur atas keberhasilannya. Selebrasi ketiganya juga dinilai masih dalam batas wajar dan tidak melanggar peraturan.

Selebrasi para pemain Bali United ini bukan yang pertama kalinya. Setidaknya, selebrasi serupa pernah mereka lakukan pada 14 Mei 2017, ketika mereka menggulung tim tamu Borneo FC (3-0) di Stadion Kapten I Wayan Dipta.

Kala itu selebrasi dilakukan oleh Yabes Roni, Miftahul Hamdi, dan Ricky Fajrin. Momen itu juga sempat diabadikan oleh Miftahuddin Halim.

Miftahul mengaku bahwa kebiasaan melakukan sujud syukur sudah sering dilakukan sejak bergabung dengan Tim Nasional U-19.

"Selebrasi itu sudah saya lakukan sejak memperkuat timnas u-19. Setiap cetak gol atau assist, saya merayakannya dengan sujud," ujarnya, dilansir Kompas.com.

Yabes, Mifathul, dan Ricky memang pernah bergabung dengan Timnas U-19. Skuat Garuda Muda itu dikenal pula dengan kebiasaan merayakan gol lewat sujud syukur kepada sang pencipta,

Selebrasi seperti Ini bukan kali pertama terjadi di Indonesia.

Sebenarnya, selebrasi yang serupa sebelumnya sudah pernah dilakukan klub Liga Indonesia lain.

Klub tersebut adalah Persikad Depok.

Foto yang menampilkan para pemain Persikad melakukan selebrasi lintas agama diambil dalam laga kontra Persikabo Bogor pada Minggu (21/5/2017) dan diunggah di akun @persikaddepok dua hari setelahnya.

Keterangan foto yang ditulis pun mengekspresikan pesan kebinekaan yang ada di dalam tim.

“Meski berbeda kita tetap satu, Semoga kebersamaan dan keharmonisan ini dapat membawa kita ke puncak prestasi. Bersatu untuk Depok,” tulis keterangan foto.

Saat itu, Persikad berhasil meraih kemenangan 2-1 atas Persikabo di Stadion Pakansari, Bogor.

Dua gol kemenangan Persikad dicetak oleh Nanang Asripin dan Akbar Eka Putra.

Selain Bali United dan Persikad Depok, pemain Borneo FC ikut melakukan hal yang sama.

Seperti yang telah dilakukan oleh dua pemain Borneo FC, Lerby Eliandry dan Sultan.

Namun, seperti yang dilansir SuperBall.id dari Juara.net, Lerby mengaku bahwa selebrasinya dengan Sultan tak ada maksud memberikan pesan politik.

"Tidak ada pesan khusus karena selebrasi seperti itu sudah sering kami lakukan," ungkap Lerby seperti yang dikutip SuperBall.id dari Juara.net.

Setelah borneo ada juga pemain persebaya surabaya yang melakukan selebrasi serupa, bahkan dilakukan oleh banyak pemain.

Selebrasi tersebut dilakukan saat Bajul Ijo menang 5-2 atas bali united pada pertandingan yang berlangsung di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Minggu malam (18/11/2018).

Saat itu pemain Persebaya langsung berlutut dengan mengucap rasa syukur atas banyaknya gol dalam kemenangan ini. Namun, mereka merayakan rasa syukur itu dengan cara berdoa masing-masing, sesuai keyakinan yang dianut.

Fandi Eko Utomo dan Misbakus Solikin melakukan sujud syukur. Lalu, Osvaldo Haay dan Ruben Sanadi melipat tangan di dada. Otavio Dutra dan David da Silva menangkat kedua tangan ke atas. Sementara OK John menangkupkan tangan di depan dada.

"Saya pikir teman-teman tadi itu refleks saja. Kami mengucap syukur kepada Tuhan, kami berhasil menang dan mencetak banyak gol. Kami semua merasa sangat senang dengan berkah yang diberikan Tuhan,” kata Osvaldo Haay kepada Bola.com setelah pertandingan.

Ini merupakan kali pertama pemain Persebaya melakukan selebrasi yang cukup unik seperti ini. Biasanya mereka memilih untuk berlari ke arah suporter atau beraksi di depan kamera untuk menunjukkan kebanggaan mencetak gol.

Wakil kapten Persebaya, Misbakus Solikin, senang dengan kemenangan timnya kali ini. Dia merasa selebrasi ini merupakan satu di antara untuk selalu menjaga kekompakan dalam tim.

"Semua pemain di Persebaya saling menghormati agama masing-masing. Itu yang selalu kami usahakan, menjaga kekompakan di dalam dan luar lapangan. Kami tidak pernah membeda-bedakan agama di tim Persebaya," ucap Mis.

Wajar pemain Persebaya mengucap syukur yang begitu mendalam di pertandingan ini. Sebab, ini merupakan kemenangan terbesar Bajul Ijo saat melakoni partai tandang musim ini.

Pecinta sepak bola tanah air seharusnya bangga dengan selebrasi mereka itu. Betapa pentingnya toleransi antar umat beragama.

Seperti yang disebutkan dalam pembukaaan UUD 1945 pasal 29 ayat 2 telah disebutkan bahwa

“Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya sendiri-sendiri dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya”

Sehigga kita sebagai warga Negara sudah sewajarnya saling menghormati antar hak dan kewajiban yang ada diantara kita demi menjaga keutuhan Negara dan menjunjung tinggi sikap saling toleransi antar umat beragama.