Recent Posts

Inilah 18 Pesepakbola yang Pernah Berseragam Persebaya dan Arema

Kepindahan Makan Konate dari Arema ke Persebaya secara resmi, Kamis (16/1/2020), sontak menjadi sorotan. Gelandang berpaspor Mali itu membua... thumbnail 1 summary
Kepindahan Makan Konate dari Arema ke Persebaya secara resmi, Kamis (16/1/2020), sontak menjadi sorotan. Gelandang berpaspor Mali itu membuat keputusan berani karena memutuskan menyebrang ke klub rival.

Makan Konate sebenarnya tidak sendiri. Rekannya di Arema, Nasir, memutuskan membela Persebaya pada musim 2020. Kebersamaan Nasir dengan Arema lebih lama ketimbang Konate, yaitu selama tiga musim (2017-2019).

Perpindahan pemain dari sebuah klub ke klub rival ini sebenarnya bukan hal langka. Jika merujuk rivalitas Persib Bandung dan Persija Jakarta, sudah banyak yang melakukan hal itu.

Mereka yang pernah menyeberang ke klub rival, seperti Atep, Firman Utina, Tony Sucipto, Shahar Ginanjar, Aliyudin, Maman Abdurrahman, Charis Yulianto, dll. Mereka lantas dianggap membelot lantaran hijrah ke klub yang dianggap sebagai musuh bebuyutan.

Seperti diketahui, Arema dan Persebaya adalah dua klub yang terlibat rivalitas sejak lama untuk menunjukkan yang terbaik di Jawa Timur.

Bukan sebuah rahasia lagi, kalau Arema melawan Persebaya selalu identik dengan partai panas. Duel dua klub asal dua kota terbesar di Jawa Timur itu bertajuk Derbi Jatim.

Rivalitas yang sudah berjalan lama menjadi pemicu stigma model ini muncul. Lebih lanjut tentang hal tersebut, kedua tim juga selalu tampil all out tidak ada yang mau kalah setiap kali bertemu.

Walaupun begitu, namun ternyata ada banyak pemain yang diam-diam pernah berseragam di kedua kesebelasan itu.

Berikut rangkuman deretan pemain yang pernah membela dua klub dengan rivalitas tinggi di Jawa Timur itu, Arema dan Persebaya, selain Makan Konate serta Nasir.

Siapa sajakah mereka? Simak ulasan berikut untuk mengetahuinya.


1.Frank Bob Manuel Bamidelle (Nigeria)

Pada Liga Indonesia 2001, Arema mendatangkan Frank Bob Manuel Bamidelle pada putaran kedua.

Saat itu, Frank pun sukses membawa Arema ke babak delapan besar.

Setengah musim di Arema, Frank hengkang ke klub tetangga, Persema Malang di musim 2002.

Pada musim 2003 hingga 2004, ia bermain untuk Persik Kediri dan sukses menyumbangkan satu gelar juara Liga Indonesia.

Selesai di Persik, Frank bergabung dengan Pelita Jaya pada 2005.

Hanya setengah musim, ia pun hengkang ke rival Arema, Persebaya pada putaran kedua musim 2005 bersama Michel Adolfo Souza.


2. Anthony Jommah Ballah (Liberia)

Datang ke Arema pada 2006 dari PSIS Semarang, Anthony Jommah Ballah langsung menyumbangkan satu trofi buat Arema yakni Piala Indonesia atau Copa Indonesia.

Penampilan Anthony bersama Arema pun terus berlanjut di musim berikut akan tetapi hanya setengah musim saja.

Pada putaran kedua musim 2007, ia justru memilih bergabung dengan rival Arema, Persebaya.

Banyak kabar yang berhembus bahwa kepindahan Anthony pada saat itu diakibatkan hubungannya yang tak harmonis dengan pelatih Arema saat itu, Miroslav Janu.


3. Patricio "Pato" Morales (Chile)

Datang ke Arema pada putaran kedua musim 2007, karier Pato Morales di kandang singa hanya berlangsung setengah musim saja.

Di musim berikut, jasa Pato tidak lagi dipakai oleh manajemen dengan alasan penyegaran dan lebih memilih menggunakan jasa Emile Mbamba.

Pada putaran kedua musim 2008-2009, Pato dipanggil kembali manajemen Arema untuk menggantikan Mbamba yang terkena skorsing.

Pato pun akhirnya kembali membela Arema sampai musim 2008-2009 berakhir.

Di musim 2009-2010, Pato pindah ke Persik Kediri.

Hanya setengah musim saja bersama Persik, Pato pindah ke rival Arema, Persebaya.

Di Surabaya, karier Pato pun hanya berlangsung setengah musim saja.


4. Andrew Barisic (Australia)

Pada Maret 2011, Andrew Barisic bergabung bersama Persebaya 1927 yang berlaga di Liga Primer Indonesia (LPI) 2011.

Di helatan LPI berikutnya yakni LPI 2011-2012, Barisic masih bermain untuk Bajul Ijo

Hanya jasanya tak dipakai lagi pada putaran kedua lantaran manajemen menganggap penampilannya tak sesuai ekspektasi.

Barisic pun tak perlu lama menganggur, ia segera dipinang oleh Arema yang berlaga di LPI asuhan Dejan Antonic.

Bersama Singo Edan, Barisic hanya bermain selama setengah musim saja.


5. Goran Ganchev (Macedonia)

Goran Gancev sempat membela Persebaya 1927 di ajang LPI 2013.

Ia datang membela Bajul Ijo untuk mengisi posisi Otavio Dutra yang hengkang ke Persipura Jayapura.

Setelah LPI dibubarkan PSSI, Gancev pun meninggalkan Indonesia.

Pada 2015, ia kembali lagi ke Indonesia untuk membela Semen Padang di Liga Super Indonesia 2015.

Namun baru dua kali bermain, Gancev pun lagi-lagi harus meraskaan pembubaran kompetisi.

Pada 2016, saat Indonesia Soccer Championship (ISC) dihelat untuk menggantikan kompetisi yang mati, Goran Gancev memutuskan menerima tawaran rival Persebaya, Arema.

Di Arema, Gancev menjadi palang pintu Singo Edan bersama Hamka Hamzah, pemain yang juga pernah membela Persebaya.


6. Erik Setiawan

Bek sayap yang ikut membawa Persebaya promosi ke Divisi Utama 2004. Pemain asal Bandung ini memperkuat Arema Malang di Kompetisi ISL tahun 2008-2009.


7. Sutaji

Posisinya adalah gelandang bertahan. Arek Sidoarjo ini adalah produk asli kompetisi internal Persebaya. Ikut membawa Green Force menjuarai Liga Kansas 1996/97. Namanya justru melambung saat memperkuat Arema Malang di tahun 2004-2008.


8. Ahmad Junaidi

Striker asal Probolinggo ini juga produk kompetisi internal Persebaya. Sempat masuk tim utama Green Force di Liga Dunhill I musim 1994/95 dan melambung saat memperkuat Mitra Surabaya di tahun 1996/97.

Kemudian meledak ketika bermain bersama Arema Malang tahun 2001 dengan 15 gol. Sayang ketika bergabung dengan Persebaya di tahun 2002, karirnya meredup.

9. Ranu Tri Sasongko

Arek Margorejo ini dibesarkan oleh Persebaya saat dilatih oleh Jacksen F. Tiago di Liga Djarum Indonesia 2005. Kemudian di Kompetisi ISL 2008/09, Ranu memperkuat Arema Malang.


10. Muhammad Khoiful Ajid

Bermain bersama Persebaya selama dua musim. Yakni di Liga Dunhill Musim 1994 hingga 1996. Mencetak satu gol saat Persebaya kalah 2-6 melawan PSV Eindhoven pada 6 Januari 1996.

Lalu kemudian Arek Kepanjen ini memperkuat Arema Malang selama dua musim, yakni 1997 hingga 1999.


11. Suroso

Pemain bertahan asal Sidoarjo ini mulai muncul kepermukaan saat rutin dimainkan oleh Persebaya di Liga Bank Mandiri VIII 2008.

Hanya semusim di Surabaya kemudian Suroso melanglang buana ke berbagai klub hingga akhirnya memperkuat Arema Malang pada 2007-2009.


12. Ricky Kayame

Berbicara tentang hal ini, tentu Ricky Kayame menjadi sosok lapangan hijau paling baru yang pernah membela panji Singo Edan dan Bajul Ijo.

Yaa, seperti kita ketahui baru tahun kemarin darah Papua ini membela Persebaya di Liga 1 dan sekarang sudah bersama Arema FC.

Kabarnya kepindahan tersebut karena mantan Persipura itu, tidak masuk rencana dari pelatih Djadjang Nurdjaman.

Meski begitu, bila dilihat beberapa penampilannya berseragam Arema, sosok ini bisa dikatakan moncer.

Selain kerap dipercaya bermain, Ricky juga telah menorehkan empat gol di ajang Piala Presiden 2019. Jumlah yang menyamai penyerang baru Persebaya Amido Balde.

Kini, Ricky Kayame bergabung dengan Persita Tangerang.


13. Hamka Hamzah

Sama halnya dengan Ricky Kayame tadi, kapten Arema FC Hamka Hamzah menjadi pesepakbola yang pernah berseragam kedua tim elite Jawa Timur itu.

Bahkan pria yang sempat memperkuat Persik Kediri ini, mampu raih gelar dengan kedua klub itu. Bersama Persebaya, pemain belakang satu ini menjuarai Divisi I 2003 dan promosi ke Divisi Utama 2004.

Sedangkan dengan Arema FC, dirinya sempat menjadi juara di ajang Torabika Bhayangkara Cup 2016. Dengan capaian bagus tersebut tidak heran kalau hingga sekarang Hamka menjadi sosok yang dihormati oleh pendukung kedua tim.

Hamka Hamzah sendiri tergolong masih berusia muda ketika membela panji hijau Persebaya. Kini, dia telah meninggalkan Arema dan bergabung dengan Persita Tangerang.


14. Rachmat Afandi

Pemain asli Jakarta ini membela Persebaya saat masih berusia muda, pada 2003-2004. Dia juga hanya membukukan delapan penampilan dengan satu gol saja. Sama seperti Hamka, dia membela beberapa klub lain sebelum hijrah ke Arema.

Persikabo Bogor dan PSMS Medan menjadi klub tempat Rachmat Afandi singgah, sebelum membela Arema pada 2009-2010. Bersama Singo Edan, dia ikut menjuarai ISL 2009-2010 di bawah arahan pelatih Robert Alberts.

Pada 2017, Rachmat Afandi kembali membela Persebaya yang baru disahkan oleh PSSI dan akan berkompetisi di Liga 2. Namun, namanya dicoret akibat mengalami cedera.


15. Arif Ariyanto

Selain nama-nama tadi, mantan pemain binaan Persebaya yakni Arif Ariyanto juga sempat berseragam hijau dan biru.

Arif tercatat selama lima tahun membela panji Persebaya yakni pada tahun 2005 sampai 2010. Selama waktu tersebut, mantan punggawa Persela Lamongan sukses catatkan lebih dari 50 pertandingan.

Waktu membela panji Singo Edan, pemain kidal ini memperkuat Arema yang bermain di kompetisi LSI pada tahun 2011 sampai 2012.

Seperti hal ketika bersama tim ibukota Jawa Timur tadi, pria 33 tahun juga banyak dipercaya turun berlaga. Tercatat, Arif torehkan 24 penampilan dengan sejumlah gol kala membela panji Arema.


16. I Putu Gede

Tidak kalah dengan beberapa sosok tadi, pelatih Perseru di gelaran Piala Presiden 2019 juga sempat rasakan berlaga dengan Arema dan Persebaya.

Ketika itu I Putu Gede terlebih dahulu memperkuat Persebaya pada dua musim kompetisi Ligina Awal yakni tahun 1994-1995 dan 1995-1996.

Lalu ketika bergabung dengan Arema, pria menepati posisi gelandang ini bergabung pada 1999 setelah melanglang ke klub Ibukota Persija Jakarta.

Tercatat berkarier di olahraga ini, pelatih Perseru ini bisa dikatakan keluar masuk klub berlogo Singa tersebut.

Pasalnya, pada tahun 2002 sempat hijrah ke Deltras sebelum akhirnya kembali lagi ke Arema pada 2004.

Selama berstatus pemain Arema dirinya sukses mempersembahkan gelar Divisi Utama serta berhasil menyabet kampiun Piala Indonesia atau Copa Indonesia dua musim berturut-turut .


17. Hendro Kartiko

Pria asal Banyuwangi ini tiga musim dalam dua periode berbeda memperkuat Persebaya. Yakni periode pertama dimulai pada musim 1997 hingga tahun 1999.

Dan periode kedua pada tahun 2004 yang ikut menghasilkan gelar juara Liga Bank Mandiri X.

Setelahnya pada kurun waktu 2006 sampai 2008, mantan kiper Timnas Indonesia ini memperkuat Arema Malang.


18. Aji Santoso

Seperti halnya Putu Gede tadi, Aji Santoso juga menjadi eks lapangan hijau yang mempunyai karier dengan dua besar sepak bola Jawa Timur Tersebut.

Memulai karier di akademi Arema, pelatih Persela Lamongan tercatat habiskan delapan musim dengan klub kota kelahirannya tersebut. Selama itu, Aji sukses persembahkan trofi Galatama musim 1992-1993.

Dilansir Boombastis dari Bolasport, Setelah gelaran Liga Indonesia pertama tepatnya pada 1995, Aji memutuskan menerima pinangan Persebaya.

Di sana tercatat Aji abdikan diri berseragam hijau dari tahun 1995 sampai 1998. Dengan sukses merengkuh Liga Indonesia 1996-1997.

Tapi, setelah Persebaya, PSM Makasar, dan Persema Malang pada tahun 2002 Aji kembali ke Arema dan gantung sepatu di sana.


Berkaca dari nama-nama tadi, agaknya menjadi bukti kalau rivalitas yang sesungguhnya hanyalah 90 menit saja. Lebih dari itu semua elemen di olahraga ini adalah saudara. Jadi jangan sampai nilai-nilai persaingan membuat kalian menjadi buta kalau sebenarnya Malang dan Surabaya adalah kota saling membutuhkan.