Recent Posts

KISAH SEDIH ALEXANDER PULALO : Legenda Timnas yang Jadi Supir, Hidup Pas-Pasan dan Ditinggal Istri

Karirnya di dunia sepak bola nasional telah berakhir. nama besarnya mulai dilupakan seiring munculnya wajah-wajah baru pesepak bola Indonesi... thumbnail 1 summary

Karirnya di dunia sepak bola nasional telah berakhir. nama besarnya mulai dilupakan seiring munculnya wajah-wajah baru pesepak bola Indonesia.

Pengalaman paling berkesan menurutnya ialah keberhasilannya dalam menyabet Piala copa indonesia bersama arema malang.

Dialah Alexander Pulalo adalah tipe pemain yang keras, lugas dan tanpa kenal kompromi. Karena gaya permainannya tersebut tak jarang ia mendapatkan kartu kuning maupun kartu merah.

Alexander Pulalo lahir di Jayapura, Papua, 8 Mei 1973 salah satu produk PSSI Primavera seangkatan Kurniawan Dwi Yulianto, Kurnia Sandi, Bima Sakti dan beberapa pemain tenar lainnya.

Ia adalah salah seorang pemain kidal yang biasa berposisi sebagai pemain bek kiri maupun kanan. Ia mempunyai saudara kandung yang juga satu tim di PSSI Primavera yaitu Herman Pulalo. 

Ia tergolong pemain yang kenyang pengalaman dengan seringnya di panggil timnas junior maupun senior. 

Pesepakbola berdarah papua itu juga sempat membela Timnas Indonesia, satu angkatan bersama Ponaryo Astaman di Piala Asia 2004.

Karena punya pengalaman dan jadi rebutan tim-tim Indonesia, menjadi pesepakbola bergaji tinggi pun sempat ia rasakan.

Jalan panjang karir Alex dimulai saat usianya 12 tahun. Alex yang kala itu merupakan pemain sebuah klub sepak bola kecil di Papua, mencoba mencari peruntungan dengan mengikuti turnamen Komite Nasional Pemuda Indonesia tingkat Kabupaten. 

Klub yang ia bela masuk babak penyisihan tingkat Provinsi untuk bertanding ke Jakarta. Nama Alex semakin terlihat ketika klubnya menjadi juara dua di turnamen KNPI.

Potensi bakat yang dimiliki Alex mulai tercium oleh Edi Santoso, seorang pencari bakat dan bibit sepak bola nasional. Alex kemudian direkrut untuk dibina di Sekolah Sepak Bola PSSI di Kawasan Ragunan, Jakarta Selatan pada tahun 1993. 

"Saya enggak ikut pulang ke Papua. Saya dilatih di Ragunan untuk mengikuti seleksi timnas U16," kenang pria yang mengidolakan Paolo Maldini menuturkan perjalanan karirnya.

Setelah lulus seleksi, Alex kemudian membela Timnas Indonesia untuk bertanding di semua turnamen. Beberapa tahun Alex dipercaya sebagai tim inti di U16, selanjutnya ia terpilih membela Timnas U19 untuk berlaga di Pra Piala Dunia dan juga Piala Asia. 

Memakai kostum merah putih di lapangan hijau adalah mimpi Alex sejak kecil. Cita-citanya pun tak muluk-muluk, mengharumkan nama bangsa Indonesia sampai puncak juara. 

Namun sayang cita-cita itu urung tercapai. Selama berkarir di Timnas, Alex tak sempat mengangkat tropi kejuaraan.

"Dulu kita pingin pakai garuda di dada, ada bendera merah putih di kostum itu paling senang, bangga sekali, " ujarnya.

Jalan panjang karir Alex Pulalo tidak hanya sampai di situ, setelah dia bergabung dengan Tim Nasional, dia kemudian bergabung dengan Klub Semen Padang. Perlahan namun pasti, kerja kerasnya membela Semen padang mulai menuai hasil. 

Sejumlah Klub besar berebut untuk mendapatkan Alex yang dikenal sebagai pemain kidal. Dari Klub Semen Padang, Alex menaruh hati pada Pelita Jaya sebagai klub kedua yang ia bela. Setelah itu dia pindah ke PSM Makassar, Persija Jakarta, Persib Bandung, dan Arema Malang.

Alexander Pulalo, namanya tentu tak akan lepas dari Arema Malang.

Semasa masih aktif bermain, Ia merupakan andalan Arema Malang di posisi bek kiri. Kecepatan dan sifat lugasnya, membuat pertahanan Arema Malang dari sektor sayap kerap sulit ditembus.

Peran Alex bahkan pernah mengantarkan Arema meraih prestasi luar biasa. Pada medio 2005 dan 2006, Alex Pulalo menjadi bagian penting dalam keberhasilan Arema secara beruntun menjuarai Copa Indonesia.

Ia sendiri menghabiskan kurang lebih lima tahun kariernya bersama Arema, yakni dari 2004 hingga 2009. Selepas meninggalkan Arema, Ia hijrah menuju Semen Padang, berlanjut ke Mitra Kukar, lalu pensiun pada 2011.

Sayangnya, kejayaannya bersama Arema tak semanis kisahnya setelah gantung sepatu. Ya, Alex Pulalo harus menjalani masa tuanya dengan penuh perjuangan.

Ia yang dulu gahar di lapangan, tiba-tiba alih profesi menjadi seorang supir. Ia bekerja sebagai supir dari salah satu perusahaan televisi swasta nasional. 

"Ketika berhenti main bola dulu pernah jadi supir di situ, dari 2011 sampai 2016 kalau tidak salah," ungkap Pulalo.

Berhenti dari pekerjaan supir, Alex Pulalo hingga kini belum mendapatkan pekerjaan lagi. Usia yang sudah kian menua, membuatnya kesulitan mendapatkan lowongan kerja.

Ia pun sekarang hanya mengandalkan hidup dari melatih Sekolah Sepak Bola Bintang Fajar di daerah Sawangan, Depok. 

Ia juga sesekali mendapat pemasukan dari kancah sepak bola Tarkam (Antar Kampung) dengan bayaran antara Rp 300 ribu sampai Rp 500 ribu.

"Saya paling SSB Bintang Fajar di daerah Sawangan Depok. Satu dua kali juga masih ada tawaran Tarkam," ucap Pulalo

"Saya mikirnya yang penting ada pemasukan dikit-dikit. Apalagi kan zaman sekarang cari kerjaan susah," lanjutnya.

Tentu saja, usia Alexander Pulalo yang kini sudah di angka 47 tahun, tak bisa membuatnya terus berharap akan 'panggilan' itu.

Alex sendiri merasa pemasukannya sangat pas-pasan untuk hidup. Belum lagi Dia masih harus membiayai dua anaknya yang masih sekolah.

Alex Pulalo juga menyesali ia bergaya hidup mewah saat menjadi pemain bola.

Lebih menyedihkan, adalah kehidupan rumah tangganya. Sang istri kabur setelah ia tak lagi menjadi pemain bola profesional.

Demi menyiasati pengeluaran biaya sekolah anaknya, Ia mengandalkan Kartu Jakarta Pintar (KJP). Kebetulan, Pulalo dan keluarganya memang masuk dan tercatat sebagai warga DKI Jakarta.

"Sekarang ya dicukup-cukupin. Anak juga masih ada dua yang sekolah, yang satu SMA, yang satu kelas lima SD. Paling mengandalkan KJP dari pemerintah," tutur Pulalo.