Recent Posts

KISAH FRANCO HITA : TENTANG KESETIAAN DAN SEBUAH KESALAHPAHAMAN DI PERSEMA

Franco Martin Hita Gonzalez lahir 26 Oktober 1978 merupakan penyerang haus gol yang saat ini dikenal karena memiliki tato singa di lengan ka... thumbnail 1 summary

Franco Martin Hita Gonzalez lahir 26 Oktober 1978 merupakan penyerang haus gol yang saat ini dikenal karena memiliki tato singa di lengan kanannya. 

Pemain asal Argentina ini mewarisi bakat bermain sepakbola dari sang ayah yakni Alberto Hita, yang merupakan striker di klub Ferro Carril Oeste. 

Tak heran jika sejak usia belia, Franco Hita sudah sangat gemar bermain sepakbola. Saat masih berusia 5 tahun, Franco Hita telah bergabung sebuah sekolah sepakbola di Mendoza selama 4 tahun.

Setelah lulus Sekolah Menengah Atas pada tahun 1997, Franco Hita memulai karirnya di dunia sepakbola profesional dengan bergabung klub San Luis de Quillota di Chile. 

Di Chile, Franco Hita sempat membela klub Santiago Wanderers selama 4 musim kompetisi, hingga mengantar klubnya itu menjadi jawara Liga Chile tahun 2001. 

Kemudian Hita kembali ke Argentina untuk membela Gymnasia y Esgrima, sebuah klub yang berasal dari kota kelahirannya, Mendoza.

Pada tahun 2004, Franco Hita mencoba peruntungan dengan bermain bola di Indonesia. Klub Indonesia pertama yang dibelanya adalah Persigo Gorontalo.

Setelah itu, Hita pindah ke persita tangerang. Lalu ke Arema malang, persema, mitra kukar dan persela lamongan.

Franco Hita, striker asal Argentina itu kerap mengalami nasib menjadi pemain buangan. Uniknya, grafik permainan Hita justru kian mengkilap seusai dibuang klub lamanya.

Dianggap tak produktif saat membela persita di tahun 2005, Hita didepak pada pertengahan musim. Tapi, setengah musim berikutnya Franco Hita itu justru menggila di tim barunya, Arema.

Dia melesakkan tujuh gol, menjadi pemain paling produktif di kubu Singo Edan. Gelar juara Copa Indonesia dipersembahkan bomber yang sempat singgah di klub Prancis, itu.

Dalam laga final kontra Persija Jakarta, 19 November 2005, Hita bisa membukukan satu gol yang membantu Arema menang 4-3.

Pada tahun berikutnya, sekalipun tak menjadi mesin gol utama Arema, Hita kembali mengulang kesuksesan mempertahankan gelar juara Copa buat publik sepakbola Malang.

Sayang, kebersamaan Hita dengan Arema itu berakhir di awal liga indonesia 2007. Pelatih gres Arema, Miroslav Janu, kurang suka dengan gayanya.

Dengan alasan kurang disiplin karena terlambat datang dalam sesi latihan persiapan, nama Hita dicoret. Penggemar musik hip-hop itu kecewa berat. 

"Saya kecewa dengan pengurus Arema. Mereka seharusnya memperjuangkan keberadaan saya di klub. Hidup-mati saya buat Arema," jabar Hita.

Franco Martin Hita Gonzales, Mantan striker Arema dan Persema Malang asal Argentina ini hingga sekarang masih menjadi seorang idola bagi Aremania. 

Meski hanya dua setengah musim berbaju Arema, Namun nyatanya Hitta mampu mengambil hati suporter.

Selain ikut memberikan trofi juara Copa Indonesia, tato singa yang menjadi maskot Arema di lengan kanannya menjadi bukti kecintaan striker berwajah garang itu kepada Arema.

Namun, di balik kecintaannya terhadap Arema dan menjadi idola bagi Aremania, ada sebuah cerita yang kurang menyenangkan ketika Franco Hita membela klub sekota Arema yakni Persema Malang. Beberapa versi cerita mengatakan dia berkelahi dengan rekan satu tim pada tahun 2007.

Berawal dari Kesalahpahaman

Tentu Franco Hita masih mengingat momen tersebut. Pencetak 22 gol untuk Arema itu mengaku jika kejadian tersebut berawal dari sebuah kesalahpahaman.

"Saya masih ingat kejadian waktu di Persema. Itu hanya salah paham dan saya harus menceritakannya dari awal," ujar Franco Hita yang kini sudah memegang lisensi kepelatihan profesional.

Semua berawal dari ketika kompetisi berhenti selama satu bulan. Hita dan sesama pemain asing Persema, Christian Chiko Olivarez meminta izin untuk pulang ke kampung halaman negara masing-masing. Manajemen Persema memberikan izin saat itu.

Namun, ternyata ketika mereka pulang ke kampung halaman, Copa Indonesia tetap dilanjutkan. Persema harus menelan kekalahan akibat tidak diperkuat Hita dan Chiko yang sudah terlanjut diizinkan pulang.

"Setelah kekalahan itu, Persema menggelar pemusatan latihan di Batu. Saya tidak ikut karena cedera engkel. Malam harinya, Chiko datang ke rumah saya dan bercerita baru saja berkelahi dengan pemain lokal. Selama di Persema, saya sangat dekat dengan Chiko," kisahnya.

Keesokan harinya, Hita datang ke lapangan, tapi bukan untuk berlatih. Ia membawa sarung tinju untuk bertemu dengan pemain lokal yang berselisih paham dengan Chiko.

"Sebelum bermain sepak bola, saya ikut kickboxing. Saya suka olahraga itu. Jadi saya simpan sarung tinju di rumah. Itu saya bawa untuk bertemu pemain lokal di Persema. Sebenarnya saya hanya ingin bercanda, tapi keadaan berubah karena suasananya sudah tidak bagus. Namun, setelah kejadian itu, kami berteman lagi," kenang Franco Hita.

Meninggalkan Persema demi Chiko

Franco Hita mengaku sebelumnya tidak pernah ada masalah, baik dengan pemain lokal Persema, pelatih, maupun manajemen klub. Apalagi dia pencetak gol terbanyak Persema dalam kompetisi saat itu.

"Setelah kejadian itu, pengurus memanggil saya. Mereka mengatakan ingin mencoret Chiko. Kedekatan saya dengan Chiko membuat saya memutuskan untuk keluar," ujar Franco Hita.

"Setelah itu, ada tawaran kembali ke Arema atau ke Persija Jakarta. Namun, ada regulasi pemain asing harus keluar Indonesia dulu setelah bermain lima tahun. Tahun depannya baru bisa kembali lagi," kisah Hita yang saat itu memutuskan berkarier di Chile sebelum kembali ke Indonesia dan membela Mitra Kukar dan Persela Lamongan.

Jika tidak ada regulasi penyegaran pemain asing saat itu, Franco Hita mungkin masih membela Arema, atau paling tidak tetap berada di Malang.