Recent Posts

KISAH KEITH KAYAMBA GUMBS : Si Raja Selebrasi dan Misteri Nama Belakang "Tukijo" yang Hilang

Pria yang biasa disapa Kayamba itu berasal dari Saint Kitts and Nevis dan punya misteri yang belum terpecahkan hingga saat ini. Saint Kitts ... thumbnail 1 summary

Pria yang biasa disapa Kayamba itu berasal dari Saint Kitts and Nevis dan punya misteri yang belum terpecahkan hingga saat ini.

Saint Kitts and Nevis secara resmi dikenal sebagai Federasi Saint Christopher and Nevis. Itu adalah sebuah negara kepulauan kecil di Hindia Barat. 

Terletak di rangkaian Kepulauan Leeward di Lesser Antilles, Saint Kitts and Nevis merupakan wilayah Persemakmuran, dengan Elizabeth II sebagai Ratu dan kepala negara. Ini adalah satu-satunya federasi di Karibia.

Ibukota negara ini ada di Basseterre, yang terletak di Pulau Saint Kitts yang lebih besar. Basseterre juga merupakan pelabuhan utama untuk masuknya penumpang melalui kapal pesiar dan kargo. 

Di sepakbola, Saint Kitts and Nevis termasuk anggota Konfederasi Sepakbola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (CONCACAF). 

Di kawasan Karibia, Saint Kitts and Nevis tidak memiliki prestasi yang bisa dibanggakan. Mereka masih kalah kelas jika dibanding Trinidad and Tobago, Jamaika, atau Haiti.

Uniknya, dalam daftar pencetak gol terbanyak sepanjang masa tim nasional Saint Kitts and Nevis terdapat nama Gumbs. Tidak tanggung-tanggung, mantan penyerang kelahiran 11 September 1972 itu memiliki 47 gol. 

Jumlah itu menjadikan Gumbs pemain yang paling sering mencetak gol untuk The Sugar Boyz.

Newton United merupakan klub pertama yang dibelanya. Dia bermain dari tahun 1989 hingga 1998. Selama 9 tahun bermain untuk klub tersebut, Kayamba sudah memainkan pertandingan sebanyak 187 kali dengan jumlah gol mencapai 196 kali. 

Sebuah prestasi yang luar biasa dimana dia rata-rata bermain 20 kali per musim dengan gol rata-rata lebih dari 1 untuk tiap pertandingan. 

Atas prestasi inilah dia kemudian dilirik oleh klub asal Belanda, FC Twente. Tak puas disitu, dia kemudian menyeberang ke Inggris dimana Oldham Athletic A.F.C menjadi naungannya. 

Cap sebagai penjelajah klub pun layak disematkan kepada dirinya karena telah membela 12 klub yang berbeda di 3 benua yang berbeda. Termasuk klub papan atas Brasil, Palmeiras. 

Memiliki nama lengkap Keith Jerome Gumbs Tukijo, Kayamba datang ke Indonesia di usia yang tidak muda. Dia bergabung dengan Sriwijaya FC pada 2007 setelah bermain di Hong Kong bersama Kitchee. 

Semuanya menjadi fenomenal karena di saat itu, usianya telah menginjak angka 35 tahun. Maka tak jarang dia dipanggil “Papa Gumbs”.

Namun, Gumbs membuktikan usia bukan penghalang. Bersama tim asal Sumatera Selatan itu, dia menjadi roh permainan. Selama periode itu, dia termasuk sosok penyerang tajam dengan koleksi 74 gol dari 145 pertandingan.

Kepiawaian mencetak gol juga membuat Gumbs mendapatkan sejumlah gelar individu. Dia sempat didaulat sebagai Pemain Terbaik Piala Indonesia 2010 dan Indonesia Super League (ISL) 2010/2011. Dia membawa Laskar Wong Kito menjuarai ISL 2007/2008 dan 2011/2012.

Gumbs juga turut berkontribusi dengan tiga gelar Sriwijaya di Piala Indonesia 2007/2008, 2008/2009, dan 2010. Saat itu, mereka merupakan tim bertabur bintang dengan gaya permainan yang membuat banyak tim kerepotan selama 90 menit.

Kayamba adalah perpaduan dari teknik tingkat tinggi, insting mencetak gol, dan kebahagiaan saat mengenakan seragam kesebelasan. 

Ketika ia bermain, penyerang yang satu ini tak hanya berdiri di lapangan untuk melaksanakan kewajibannya sebagai pencetak gol, tapi juga berusaha mengangkat performa timnya sekuat tenaga.

Salah satu contoh nyata adalah di laga penyisihan Grup F Liga Champions Asia 2009/2010. Menjamu tim raksasa Cina, Shandong Luneng, Sriwijaya FC tertinggal dua gol lebih dulu di babak pertama sebelum akhirnya membalikkan keadaan di babak kedua dengan menang 4-2. 

Meski saat itu Sriwijaya FC sudah dipastikan tersingkir, namun tetap saja pertandingan itu merupakan laga heroik, dan Kayamba merupakan salah satu aktor utama dibalik kebangkitan timnya malam itu.

Kualitas ala mantan pemain Liga Eropa benar-benar ditunjukkannya saat itu

Dari Sriwijaya, Gumbs bergabung dengan Arema Cronus pada 2012. Dia bermain satu tahun dengan mengoleksi 8 gol dari 24 pertandingan ISL. 

Tapi, tidak seperti di Sriwijaya, penampilan Gumbs bersama Singo Edan biasa-biasa saja. Usia dan persaingan yang ketat di lini depan membuat Gumbs kurang berhasil memuaskan Aremania.

Satu yang unik dan menarik dari pemain satu ini, yakni selebrasi.

Warna yang diberikan Kayamba di Liga Indonesia tak hanya berkaitan dengan gol. Baik di Sriwijaya FC maupun di Arema. 

Pemain ini juga terkenal dengan selebrasinya yang bervariasi. Mulai dari menirukan sengatan kalajengking, hingga berjalan sambil mengaum seperti singa.

Melihat serangkaian aksi teatrikal yang dilakukannya setelah mencetak gol, predikat raja selebrasi pun melekat pada dirinya, melengkapi status sebagai raja gol yang lebih dulu disandangnya.

Setelah memutuskan pensiun sebagai pesepakbola profesional pada 2013, Gumbs banting setir menjadi pelatih. Dia sempat dipercaya menukangi tim muda di Australia, Southern Ettalong United.

Gumbs menjadi pelatih setelah mengikuti kursus kepelatihan. Dia memiliki sertifikasi kepelatihan seperti Analysing, Evaluating Soccer Team, and Players (2009). 

Lalu, Conditioning for Soccer (2010) dan Diploma Kepelatihan (2012). Gelar itu pula yang membuat Gumbs sempat melatih di Sriwijaya, walau sebatas pelatih fisik (2011-2012) dan asisten pelatih (2016).

Namun, dari semua performa Gumbs selama di Indonesia, ada satu hal yang menjadi misteri hingga hari ini, yaitu nama. 

Menurut beberapa sumber, Kayamba masih mempunyai darah Indonesia dimana para pendahulunya berasal dari tanah Jawa. Oleh karena itu, tak lupa sebuah nama khas Jawa disematkan pada dirinya, yaitu Tukijo.

Pasalnya, saat awal datang ke Indonesia, Gumbs dengan bangga mengaku memiliki darah Indonesia. Dia menunjukkan nama belakangnya "Tukijo".

Entah apa alasannya, Gumbs kemudian tidak pernah memakai nama belakang itu lagi. 

Dia memilih menggunakan Gumbs sebagai nama belakang. Raut wajah Gumbs juga akan berubah marah saat ada yang menyinggung atau bertanya tentang "Tukijo" di nama belakangnya.

Entah, ada apa dibalik nama "Tukijo" tersebut sampai kini masih menjadi misteri.

Meski di mesin pencarian Google atau Wikipedia hanya tertulis Gumps, situs Transfermarkt dan Football-lineups ternyata masih setia menggunakan "Tukijo" sebagai nama belakang Gumbs.