Recent Posts

Kisah Ronny Pasla : Kiper Legendaris yang Mampu Tepis Tendangan Penalti Pele

Di balik karier sepak bolanya yang cemerlang, Dia ternyata memulai debut olahraganya dari cabang tenis. Pada gelaran PON ke-VI tahun 1965 ia... thumbnail 1 summary
Di balik karier sepak bolanya yang cemerlang, Dia ternyata memulai debut olahraganya dari cabang tenis.

Pada gelaran PON ke-VI tahun 1965 ia bahkan terdaftar sebagai atlet tenis mewakili Provinsi Sumatera Utara. Namun karena suatu hal, perhelatan PON ke-VI itu urung terlaksana. 

Dua tahun berikutnya, Dia kemudian mengikuti Kejuaraan Tenis Nasional Tingkat Junior di Malang dan berhasil meraih podium pertama.

Dia adalah Ronny Pasla, merupakan kiper legendaris timnas indonesia yang lahir di Medan, 15 April 1947 dari seorang ayah yang bernama Frans Felix Pasla dan ibu Magdalena Sorongan.

Ia merupakan satu dari beberapa penjaga gawang diorbitkan oleh PSMS Medan yang pernah memperkuat Timnas Indonesia selain nama-nama seperti Ponirin Meka, Sahari Gultom hingga Markus Horison.

Ronny Pasla, Nama ini memang agak asing di telinga generasi sekarang, tapi tidak dengan mereka yang lahir dan di besar 60-an hingga 70-an. Dia adalah benteng kokoh timnas Indonesia yang begitu handal dalam mengantisipasi segala macam ancaman yang ditebarkan para penyerang lawan.

Awal mula dirinya terjun ke cabang sepak bola bermula dari saran ayahnya, Felix Paslah. Selanjutnya, Ronny mulai berlatih dengan klub sepak bola Dinamo Medan. Karena dinilai punya talenta yang luar biasa, tak sampai setahun Ronny langsung dipercaya menjadi penjaga gawang utama Dinamo Medan. 

Bersama klub ini, Ronny kemudian berlaga di Piala Suratin dan langsung menjadi juara di kompetisi yang sangat bergengsi pada saat itu. Berkat penampilannya yang cemerlang bersama Dinamo Medan di Piala Suratin, Ronny yang baru berusia 20 tahun  ketika itu langsung dipanggil untuk memperkuat tim nasional Indonesia. 

Tidak butuh waktu lama buat Ronny untuk mendapat kepercayaan sebagai penjaga gawang utama timnas Garuda. 

Salah satu kisah menarik dari karier Ronny Paslah sebagai penjaga gawang Indonesia adalah saat ia mampu menepis tendangan penalti pemain besar timnas Brasil, Pele. 

Dalam pertandingan persahabatan antara Indonesia melawan Santos tahun 1972 yang digelar di Stadion Senayan (kini bernama Gelora Bung Karno), tim Santos mendapat hadiah penalti. 

Pele yang dipercaya menjadi eksekutor ketika itu rupanya gagal membobol gawang Indonesia yang dikawal oleh Ronny Pasla. Tendangannya berhasil ditepis oleh Ronny Pasla yang pada pertandingan ini bermain sangat gemilang. 

Meski di akhir pertandingan Indonesia kalah 2-3 dari Santos, aksi Ronny menepis tendangan penalti Pele ketika itu tetap memunculkan banyak pujian dan rasa bangga dari masyarakat Indonesia. Apalagi Indonesia hanya kalah tipis dari tim sekelas Santos yang merupakan salah satu tim terbaik di dunia.

Setelah aksi menepis tendangan penalti Pele itu, nama Ronny Pasla sontak tenar dan harum di Asia dan di mata dunia internasional. Ia juga disebut-sebut memiliki kemampuan dan kelenturan badan setara kiper legendaris Uni Soviet, Lev Yashin. 

Tahun 1975, saat timnas Indonesia melakoni laga uji coba dengan Manchester United, Ronny Paslah juga menunjukkan penampilan gemilang. 

Tim setan Merah yang saat itu diperkuat Tommy Docherty, Steve James, Gerry Dally, Sammy McIlroy dan Jim Holten tidak ada yang mampu menjebol gawang Indonesia. Pertandingan berakhir dengan skor kacamata dan untuk kali kesekian rakyat Indonesia dibuat bangga secara khusus berkat penampilan cemerlang Ronny Paslah dan kebanggaan secara umum untuk timnas Indonesia. 

"Yang saya ingat ketika itu saya banyak berjibaku memotong umpan-umpan silang pemain MU untuk mematahkan skema serangan mereka," ujar Ronny. 

Selama berkiprah di PSMS, Ronny dan rekan-rekannya meraih prestasi sebagai Juara Piala Suratin (1967), Juara Kejurnas PSSI (1967, 1969 dan 1971), Juara Aga Khan Gold Cup (1967), Juara Soeharto Cup 1972, Juara Marah Halim Cup 1972 dan 1973 dan Semifinalis Liga Champions Asia 1970 (dulu masih bernama Asian Club Championship).

"Dia meraih prestasi bersama legenda-legenda PSMS lainnya seperti Tumsila, Sarman Panggabean hingga Wibisono. Ronny juga turut membawa Tim Sumut merebut emas PON 1969," ungkap Indra.

Sementara itu, kiprahnya sebagai penjaga gawang andalan Timnas turut mengukir sejumlah prestasi seperti juara King's Cup di Thailand (1968), Juara Merdeka Games (1969), Peringkat III Saigon Cup (1970), Juara Pesta Sukan Singapura (1972), Juara Djakarta Anniversary Cup 1972.

Dengan tinggi badan 183 cm, Ronny ketika masih aktif bermain sangat unggul dalam antisipasi bola-bola atas. Tidak heran, posisi pemain inti di timnas Garuda tak tergantikan sejak 1966 hingga pensiun  pada usia 38 tahun. Ronny pensiun total pada usia 40 tahun. Klub terakhir yang dibelanya adalah Indonesia Muda. 

Setelah pensiun Ronny lebih banyak menggumuli olahraga tennis lapangan sebagai pelatih. Bahkan dia memiliki sekolah tenis lapangan bernama Velodrom Tennis School di Jakarta.