Recent Posts

CERITA EROL IBA : Talenta dari Papua yang Jadi Muallaf

Erol FX Iba merupakan mantan pemain Timnas Indonesia yang begitu bertalenta dari negeri Papua. Erol FX Iba Lahir di Jayapura, 6 Agustus 19... thumbnail 1 summary
Erol FX Iba merupakan mantan pemain Timnas Indonesia yang begitu bertalenta dari negeri Papua.

Erol FX Iba Lahir di Jayapura, 6 Agustus 1979. Ia memulai karier sepak bolanya pada tahun 1998 dengan membela Semen Padang. Berposisi sebagai bek kiri, Erol FX Iba yang saat itu baru berusia 19 tahun menunjukan bakat dan potensi yang sangat menjanjikan.

Selain diberkahi dengan kecepatan, Erol juga bagus dalam dribel bola, passing dan sangat agresif saat menyerang. Tak pelak sejumlah klub Indonesia tergoda untuk memakai jasanya sebagai bek kiri berbakat pada saat itu.

Bertahan 4 tahun di Semen Padang, Ia melanjutkan kariernya di sejumlah klub besar Indonesia lainnya.

Pada tahun 2005 Erol pindah ke arema malang. Di sana, Ia mengantarkan Arema menjadi kampiun Copa Indonesia 2005 yang membuat namanya mencuat ke jajaran pemain elite.

Sebagai pemain profesional Erol  juga ingin punya penghasilan besar yang bisa dijadikan bekal di hari tua. Ia berkeinginan meninggalkan arema pada waktu itu.

“Bukan saya materialistis. Sebagai pemain profesional saya juga ingin punya penghasilan besar yang bisa dijadikan bekal di hari tua, Saya juga harus profesional menghargai kontrak saya dengan Arema. Kepastiannya menunggu kontrak saya berakhir,”

Pada tahun 2007 dia meninggalkan Arema dan bergabung dengan Persik Kediri. Namun dia hanya semusim di sana.

Setelah itu Ia tercatat pernah membela klub besar lainnya seperti Pelita Jaya, Persipura Jayapura, Persebaya Surabaya, Gresik United, Persepam Madura hingga sriwijaya fc.

Nama pemain asal Papua ini juga dikenal publik sepakbola Australia. Buktinya, salah satu klub kontestan Liga Australia (A-League) Newcastle Jets menyatakan berminat.

Sebenarnya, Erol nyaris meniti karier di Australia pada 2007 bersama Sydney FC yang dibesut Branko Culina.

Culina yang pada waktu itu mengambil alih kursi kepelatihan Newcastle Jets kembali menyatakan tertarik dengan Erol.

"Ketika itu, Persik dan Sydney gagal mencapai kata sepakat, kendati saya benar-benar ingin bermain di Australia. Tapi saya profesional. Jadi saya harus menghormati kontrak dengan Persik," kata Erol Iba kepada triballfootball, Rabu (8/7/2009).

"Chris Tanner (Managing Director di Zenith Sports and Event Management) menghubungi saya dan mengatakan Culina masih tertarik serta berhatap saya memperkuat Newcastle Jets," papar Erol Iba.

"Tentu saya saya tertarik dan sekarang saya menunggu konfirmasi dari mereka," tegas Erol Iba.

"Pertama saya menunggu Newcastle. Bila tawarannya menggiurkan, maka saya siap ke Australia. Saya sangat memendam hasrat bermain di negara lain sebelum mengakhiri karier pemain sepakbola," pungkasnya.

Berkat kemampuannya, Erol FX Iba sempat masuk dalam skuat Timnas Indonesia.

Ia merupakan salah satu pemain yang mendapat nilai A dari pelatih Peter Withe. Kontribusinya dari sisi sayap kiri dinilai dominan sepanjang turnamen.

Walaupun timnas akhirnya gagal di laga puncak Merdeka Games Malaysia 2006, namun pujian layak diberikan kepada sejumlah pemain yang tampil menawan di sepanjang turnamen.

Di Timnas, dia mampu menutup kelemahan Boaz Solossa, yang bermain kurang cemerlang sebagai gelandang sayap. Dengan kelebihan tersebut Erol bisa mengancam keberadaan Ortizan Solossa dan Mahyadi Panggabean, dua pemain yang waktu itu menjadi pilihan utama.

“Kehadiran Erol membuat saya punya banyak stok pemain. Jika ada yang cedera saya tak perlu repot mencari pengganti karena masing-masing punya kualitas setara,” kata Withe

Mungkin banyak yang belum mengetahui cerita di balik Erol FX Iba, yang memutuskan untuk menjadi muallaf.

Setelah menjadi Mualaf, nama "FX" pun dihilangkan sehingga namanya menjadi "Erol Iba"

Tentu saja, proses yang dilaluinya untuk memeluk agama Islam tidak terjadi secara instan.

Menurut pemain berusia 40 tahun itu banyak hal yang membuatnya tergugah untuk memeluk agama Islam.

Diceritakan Erol, sebelum memutuskan masuk Islam, nuansa agama Islam telah dirasakannya sejak 1998. Itu ketika pertama kali dirinya menginjakkan kaki di kota Padang untuk memperkuat Semen Padang.

Hal yang paling menggugahnya memeluk Islam adalah aktivitas umat Islam, yang membuatnya merasa tenang dan hikmat ketika melihat maupun mendengarnya.

Ia pun mencoba mempelajarinya sedikit demi sedikit sebelum akhirnya memutuskan memeluk agama Islam pada 2002.

"Pertama saya lihat cara orang Islam bersembahyang, khusyuk kelihatannya. Lalu lihat orang ngaji dan adzan, seperti mereka sedang berbicara langsung dengan Tuhan-nya. Dari situlah saya mulai belajar, dan akhirnya saya masuk Islam lalu menikahi istri saya yang sekarang," ungkap Erol.

Lahir dari keluarga non muslim, tentunya keputusan pemain asal Papua ini berpindah agama tidak langsung mendapat respons yang baik dari seluruh keluarga. Khususnya sang ibu yang menentang keputusannya tersebut.

"Ibu yang pertama tidak begitu setuju dengan keputusan saya. Tapi Alhamdulillah, seiring berjalannya waktu akhirnya bisa menerimanya," terang Erol yang merupakan anak sulung dari empat saudara ini.

"Kalau bapak prinsipnya terserah anak-anak. Kalau menurut anaknya itu baik silakan. Bahkan beliau pesan setelah masuk Islam jangan lupa sembahyang, berperilaku yang baik. Karena apapun agamanya kalau perilaku tidak baik, tetap sama saja tidak akan jadi orang yang baik," tambah mantan penggawa timnas Indonesia itu.

Erol pun bercerita tentang pengalaman pertama kali menunaikan ibadah puasa. "Sebelum masuk Islam saya sudah terbiasa ikut puasa pas tahun 1998, karena mayoritas teman-teman saya berpuasa waktu di Semen Padang. Tapi puasa saya tidak seperti seorang muslim, kapan mau puasa ya puasa, kalau tidak ya tidak," cerita Erol.

Pertama saya lihat cara orang Islam bersembahyang, khusyuk kelihatannya. Lalu lihat orang ngaji dan adzan, seperti mereka sedang berbicara langsung dengan Tuhan-nya.

Tapi setelah memeluk agama Islam, Erol tak ingin meninggalkan Rukun Islam keempat itu. "Tak peduli mau dalam keadaan latihan. Karena puasa ini sudah jadi kewajiban seorang muslim," tegasnya.

Setelah menjadi seorang muslim, Erol bertekad senantiasa memperbaiki ibadahnya.

"Saya berharap, puasa tahun ini ibadah saya lebih ditingkatkan walau saya juga harus menjalani latihan. Saya juga saat ini sambil belajar ngaji, karena belum begitu pandai," urainya.


Erol Iba pernah terjun ke dunia politik dengan menjadi Calon Legislatif DPRD Papua Barat dapil 5 yakni daerah Fak-fak, Teluk Betuni, Kaimana, dan Wondama. Keinginannya terjun ke dunia politik tak pelak dikarenakan ia ingin memperbaiki tanah kelahirannya.

Banyak masalah yang terjadi kampungnya sehingga membuat dirinya tergugah untuk memperbaiki tanah kelahirannya. Seperti halnya masalah listrik yang masih belum mengalir di daerahnya selama 24 jam.

"Contoh di kampung saya di Fakfak, Papua Barat. Lampu baru menyala pada pukul 18.00 WIT. Kemudian sudah mati lagi pukul 03.00 WIT. Banyak masyarakat yang belum menikmati listrik selama 24 jam,” ungkap Erol seperti yang disadur dari JPNN.

Untuk itu, Erol pun mencalonkan diri sebagai caleg dari partai Nasdem dalam pemilihan legislatif 2019. Menurut hasil dari rekapitulasi pileg provinsi Papua Barat, Nasdem berhasil menempati urutan teratas bersama Golkar dan PDIP.

Saat ini belum ada kabar apakah Erol Iba berhasil mewujudkan impiannya sebagai anggota DPRD atau tidak. Andai Erol gagalpun, ia akan kembali melatih di SSB Babo Bintuni yang dia punya