Indonesia tengah kebanjiran penyerang berkualitas di era awal 2000-an. Sebut saja Zainal Arif, Ilham Jayakusuma, Widodo Cahyono Putro, dan Kurniawan Dwi Yulianto. Nama terakhir menjadi salah satu penyerang yang kariernya paling ekstrem.
Saat di swiss Ia mendapatkan cinta dari seorang wanita yang diakuinya sebagai cinta pertamanya.
“Pacar pertama saya namanya Maurin. Dia adalah orang Indonesia yang belajar di Swiss. Awal ceritanya, saat itu saya tidak mau tinggal sendiri. Jadi, saya dicarikan tempat yang banyak komunitas orang Indonesia. Saya tinggal di hotel yang dijadikan asrama pelajar dan tempat itu ditinggali banyak orang Indonesia,” kata pemain yang juga pernah bermain di Malaysia itu.
Namun rupanya keduanya tidak berjodoh. Kurniawan lalu menikahi wanita bernama Kartika dewi pada tahun 1999. Sayangnya keduanya bercerai pada tahun 2003 setelah dikaruniai 2 orang anak.
Ia Kini hidup bersama istri keduanya, Nur RatQana Dewi yang dinikahi pada 2008 lalu.
Kurniawan menikahi Nur Ratqana Dewi pada 2008. Nur Ratqana adalah warga negara Malaysia. Tak heran Kurniawan sekarang sering mondar-mandir Jakarta-Kuala Lumpur untuk urusan kerjaan
Bersama Nur Ratqana Kurniawan tercatat memiliki bisnis kuliner. Di waktu senggang, keluarga Kurniawan kerap menikmati liburan di Indonesia.
Perjalanan karirnya dimulai di Diklat Salatiga, kemudian hijrah ke Diklat Ragunan. Namanya kemudian mulai dikenal setelah masuk sebagai salah satu pemain muda yang dikirim ke Italia dalam program timnas Primavera.
Pengiriman satu tim yang berisi pemain muda berbakat tersebut dibiayai oleh seorang pengusaha gila bola yang hingga kini masih memiliki pengaruh kuat bagi persepakbolaan nasional, Nirwan Bakrie.
Tim ini dititipkan ke Sampdoria dan berlaga di Serie C2. Potensi Kurniawan mulai terlihat dan pada tahun kedua dia masuk tim Primavera Sampdoria.
Dirinya pun sempat masuk dalam skuat yang menjalani tur lawatan ke Asia pada tahun 1994. Salah satu kota yang dikunjungi adalah Jakarta.
Bermain di Senayan –kini Gelora Bung Karno—Kurniawan tampil sebagai pemain inti bermain bersama pemain bintang seperti Roberto Mancini dan Attilo Lombardo.
Kurniawan mencetak satu gol saat itu. Sejak itulah dia mulai dicintai oleh publik Indonesia yang punya ekspektasi tinggi untuk memiliki pesepak bola yang bisa bersaing di Eropa.
Sayangnya ketika dia rindu kampung halaman dan berniat pulang, publik menghujatnya tak tahu terima kasih. Dia juga sempat ditolak masuk tim nasional.
Pada periode buruk inilah, bersama Danurwindo, Kurniawan mencoba mencari klub lain di Eropa hingga akhirnya diterima FC Luzern, Swiss.
Punya klub belum tentu semuanya menjadi lebih mudah. Faktor tak mudahnya adaptasi dan sempat beberapa kali dibekap cedera, Kurniawan gagal memperoleh tempat di tim utama.
Diapun hanya sebagai penghangat bangku cadangan.
Nmun akhirnya kesempatan itu datang. Tanggal 9 April 1995, FC Luzern menghadapi klub kuat, FC Basel. Tak disangka Kurniawan diberi kesempatan menjadi pemain inti oleh Jean-Paul Brigger yang ketika itu menjadi pelatih kepala.
Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Kurniawan tampil baik dan mencetak satu gol pada menit 23. Dia bermain selama 87 menit dalam pertandingan yang akhirnya dimenangi Luzern dengan skor tipis 2-1.
Ketika karirnya mulai menemukan jalannya, ada saja yang mengganjal. Satu setengah musim di Luzern, Kurniawan harus keluar setelah aturan pemain non Eropa diberlakukan membuatnya kesulitan mendapat tempat.
Kurniawan pun kembali ke Indonesia. Pada tahun 1995, Dia bermain untuk Pelita Jaya, klub yang juga dimiliki oleh yang mendanai tim Primavera.
Dia kembali dengan status pemain bintang. Tak banyak pemain Indonesia yang bisa menembus Eropa dan itu yang membuat Kurniawan punya level berbeda dengan pemain Indonesia lainnya.
Dia pun disebut sebagai pemain dengan gaji termahal yang bermain di Liga Indonesia.
Selain itu dia kemudian dikenal sebagai pemain yang gemar bergonta-ganti klub. Setelah dari Pelita Jaya dia sempat mencicipi karir bersama PSM Makassar dari tahun 1999 sampai 2001, PSPS Pekanbaru 2001 hingga 2003, Persebaya Surabaya 2003 hingga 2004, Persija Jakarta 2004 hingga 2005, Sarawak FA (Malaysia) 2005 hingga 2006, PSS Sleman 2006 sampai 2007, Persitara 2007 hingga 2008, Persisam Samarinda 2008 hingga 2009, Persela Lamongan 2009 hingga 2010, PSMS Medan 2010, Tangerang Wolves 2010 hingga 2011, PPSM Kartika Nusantara, hingga akhirnya memutuskan pensiun setelah membela Persipon Pontianak.
Ada berbagai cerita dalam perjalanan karir Kurniawan. Di timnas, setelah pernah ditolak timnas, dia sempat kembali masuk skuat timnas menjelang SEA Games 1999 yang dilatih oleh Bernard Schum.
Sayang ketika itu dia gagal bersaing dengan Bambang Pamungkas, Rochi Putiray, dan Widodo Cahyono Putro sehingga tersisih.
Salah satu momen terbaikdari pemain bertinggi 173cm ini adalah di Piala Tiger 2004 –saat ini Piala AFF—ketika dia tampil baik sebagai pelapis Ilham Jaya Kesuma dan jadi pahlawan di semifinal saat menghadapi Malaysia.
Saat itu timnas Indonesia diisi oleh pemain-pemain haus gol seperti Kurniawan Dwi Yulianto, ilham jaya kesuma dan boaz solossa.
Semifinal Piala Tiger 2004, saat itu dilangsungkan dua leg.
Leg pertama, timnas Indonesia harus kalah dengan skor 1-2 dari Malaysia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, pada 28 Desember 2017.
Kemudian timnas Indonesia mampu membalikkan keadaan di leg kedua yang digelar di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur, pada 3 Januari 2004.
Gol timnas Indonesia saat itu dicetak oleh Kurniawan Dwi Yulianto, Charis Yulianto, Ilham Jaya Kesuma, dan Boaz Solossa.
Dengan kemenangan di leg kedua tersebut, anak besutan Peter White berhak melaju ke final dengan keunggulan 5-3 secara agregat.
Kisah tentang Kurniawan tak melulu hal yang baik-baik saja. Salah satu penyerang yang paling disegani di Indonesia ini pernah terlibat masalah narkoba.
Ketika itu Liga Indonesia VI, dia bermain untuk PSM Makassar. Kuncoro, rekan setimnya yang tertangkap basah sakaw dan harus dilarikan ke Rumah Sakit Dr. Soetomo kemudian buka suara bahwa dia tak sendirian.
Melainkan bersama dengan Mursyid Efendi, pemain Persebaya. Mursyid kemudian menyebut nama Kurniawan sebagai sang pemilik sabu-sabu yang dikonsumsi bersama-sama.
Kontroversi tersebut terus bergulir hingga menyita perhatian komisi disiplin PSSI dan sang ketua umum saat itu, Agum Gumelar.
Meski akhirnya diputuskan tak bersalah, Kurniawan di kemudian hari mengaku sempat kecanduan narkoba. Beruntung dia akhirnya bisa bangkit dan lepas dari belenggu obat haram tersebut.
Tak hanya itu,. Perseteruannya dengan Kartika Dewi, istri pertama yang diceraikannya pada tahun 2003 juga ramai diperbincangkan.
Kini, setelah pensiun, Kurniawan menetap di Kuching, Malaysia. Dia punya restoran bernama Kopi O Corner yang dia kelola bersama istrinya yang seorang warga negara Malaysia. Tapi, Si Kurus tak sepenuhnya lepas dari sepak bola.
Kurniawan tetap berusaha terlibat aktif dalam persepakbolaan nasional.
Kini, Kurniawan adalah asisten pelatih Timnas U-23 menggantikan Yunan Helmi yang mundur setelah ditunjuk sebagai pelatih Barito Putera menggantikan Jacksen F Tiago.
Kurniawan akan membantu Indra Sjafri dalam SEA Games 2019.
Indra mengungkapkan alasannya menjadikan Kurniawan sebagai asistennya karena dia anggap memiliki kemampuan untuk mengasah lini serang Timnas U-23. Apalagi, dia merupakan eks striker Timnas Indonesia.
"Kurniawan semasa aktif bermain adalah pemain depan. Jadi saya pikir, dalam beberapa hal, dia bisa memperbaiki kelemahan lini depa kami," ujar Indra.
Semasa berkarier, Kurniawan sudah mencetak lebih dari 200 gol dan pernah memperkuat beberapa klub luar negeri seperti Sampdoria dan di Swiss, klub FC Luzern
Pria 43 tahun itu juga telah mengambil lisensi AFC A Pro. Sebelumnya, dia pernah menjadi asisten pelatih Bima Sakti di timnas saat berlaga di Piala AFF tahun 2018.
"Kurniawan cocok untuk membantu saya. Setelah kami berbicara panjang lebar, ternyata kami mempunyai keinginan dan visi sepakbola yang sama," demikian dia