Recent Posts

KISAH NOH ALAM SHAH : Arti Along, Pernah jadi Sopir Taksi Hingga jadi Asisten Pelatih Singapura

Noh Alam Shah, Legenda Singapura yang Dicintai di Indonesia Noh Alam Shah lahir di Singapura, 3 September 1980 merupakan pemain sepak bola... thumbnail 1 summary
Noh Alam Shah, Legenda Singapura yang Dicintai di Indonesia

Noh Alam Shah lahir di Singapura, 3 September 1980 merupakan pemain sepak bola berkebangsaan Singapura yang pernah memperkuat beberapa klub besar di indonesia seperti arema malang dan persib bandung.

Alam Shah mempunyai tiga orang anak. Ia memiliki darah Indonesia dari kakek ibunya yang berasal dari Pulau Bawean, Gresik, Jawa Timur. Ia pun dapat sedikit berbicara menggunakan bahasa Bawean.

Alam Shah dikenal sebagai penyerang yang memiliki kekuatan fisik, tidak kenal lelah, unggul dalam kecepatan, kuat dalam duel bola udara, dan striker oportunis dengan penyelesaian akhir yang sempurna.

Sebelum terjun ke sepak bola Along pernah tercatat sebagai pemain timnas sepak takraw U-12 Singapura berposisi sebagai tekong. 

Usia 14 ia memutuskan berhenti bermain sepak takraw untuk mencoba bermain sepak bola hingga akhirnya ada pemandu bakat yang tertarik dan memasukan namanya di tim, saat usianya 16 tahun, tidak heran kalau ia sering melakukan tendangan salto ala seorang pemain sepak bola takraw. 

Sampai sekarang, penyerang fenomenal ini adalah pencetak gol terbanyak sepanjang masa Piala AFF dengan 17 gol.

Capaian terbaik pemain yang akrab disapa Along ini adalah ketika mengantarkan Singapura ke tangga juara Piala AFF 2004 dan 2007.  

Sewaktu Piala AFF masih bernama Piala Tiger pada tahun 2004, pemain kelahiran 3 September 1980 ini sudah menjadi bagian skuat Singapura. 

Namun, pada saat itu, dirinya masih berada di bawah bayang-bayang penyerang naturalisasi asal Nigeria, Agu Casmir. 

Ia baru menggila di turnamen edisi 2007, termasuk rekor tujuh golnya dalam satu pertandingan ketika melawan Filipina.

Tujuh gol yang dicetaknya ketika Singapura menggulung Filipina 11-0 tersebut sampai sekarang menjadi rekor gol terbanyak yang dicetak pemain Singapura di level internasional. 

Along setelah itu mencetak empat gol lagi yang mengukuhkannya sebagai pencetak gol terbanyak di turnamen Asia Tenggara tersebut. Salah satu andil terpentingnya adalah sebuah golnya di final Piala AFF 2007 ketika menghadapi Thailand.

Pada tahun 1997 ia memperkuat Sembawang Rangers hingga senior, lalu hijrah ke Singapore Armed Force FC (SAFFC) kemudian kembali lagi ke tim semula. 

Pada tahun 2003 ia bergabung dengan tampines Rovers dan membantu memenangkan gelar liga dua tahun berturut-turut 2004 dan 2005.

Pada tahun 2007 ia tercatat sebagai pemain pertama yang mencetak 100 gol bagi klubnya setelah mencetak gol melawan Liaoning Guangyuan. 

Ketajaman Alam Shah sempat membuatnya mengikuti seleksi di Notts County, Inggris, dan Skonto Riga, Latvia, namun keduanya gagal karena masalah izin kerja.

Jengah dengan kecilnya jumlah penonton di stadion-stadion Singapura, Along memutuskan untuk menjajal Liga Indonesia. 

Klub pertama yang dibelanya adalah Arema Malang. Klub asal kota Malang ini mendatangkannya pada awal Liga Indonesia 2009. 

Selain Along, Arema juga mendatangkan kompatriotnya di timnas Singapura, yaitu Muhammad Ridhuan.

Musim pertama dilalui kedua pemain ini dengan sangat memuaskan. Along sendiri menunjukkan kualitasnya sebagai penyerang jempolan. 

Aremania sangat menikmati gol demi gol yang datang dari kaki dan kepalanya. 

Pada musim perdananya bersama Singo Edan, Noh Alam Shah bahkan berhasil mengantarkan Singo Edan meraih titel Indonesia Super League 2009-2010.

Debut resminya bersama Arema dilakoninya saat mengalahkan Persija Jakarta 1-0 (11.10.2009) di pekan pertama ISL 2009-2010. 

Sedangkan gol perdananya baru tercipta di laga tandang di markas Bontang FC (22.10.2009). Bersama Arema, total Along mencetak 23 gol, yakni 13 di ISL 2009-2010, 1 gol di Piala Indonsia 2010, 1 gol di Liga Champion Asia 2011, dan 8 gol di ISL 2010-2011 (dalam 49 caps).

Kedekatannya dengan Aremania juga membuatnya menjadi idola. Sebagai pemain yang punya garis keturunan Indonesia dari kakek ibunya, ia sangat mudah bergaul dengan para Aremania. 

Dalam waktu singkat, ia menjadi ikon klub bersama Benny Wahyudi, Ahmad Bustomi, dan Juan Revi.

Along juga mengagumi atmosfer sepak bola Indonesia, yang selama ini jarang ia rasakan saat berkarier di Singapura. 

Sayangnya, pada tahun 2011, sepak bola Indonesia terpecah akibat politik. Dampaknya, terjadilah dualisme kompetisi yang berdampak pula dengan terpecahnya Arema menjadi dua.

Akhirnya duet Singapura ini berpisah. Ridhuan memutuskan untuk tetap di Arema, sedangkan Along merapat ke Persib Bandung. 

Sayangnya, masa baktinya di Maung Bandung tak secemerlang di Arema. Ia hanya bertahan semusim di Persib dengan hanya mencetak empat gol.

Pada tahun 2012, Along akhirnya kembali ke klub tempatnya mengabdi paling lama, Tampines Rovers. 

Namun, sepak bola Indonesia sepertinya sudah melekat di hatinya. Ia akhirnya memutuskan untuk memperkuat PSS Sleman pada awal 2013. 

Pada 16 Maret 2013, dalam jeda pertandingan uji coba antara PSS Sleman melawan Persiba Bantul Alam Shah bersama dengan Usep Munandar diperkenalkan kepada publik setelah resmi menjadi pemain PSS Sleman dengan mengelilingi lapangan Stadion Maguwoharjo, kandang PSS Sleman. 

Keduanya pun mendapat aplaus meriah. Ia bergabung dengan mantan rekannya di Arema Indonesia seperti Waluyo, Aji Saka, Juan Revi, dan Wahyu Gunawan yang lebih dulu bergabung bersama PSS Sleman. 

Alam Shah mencetak gol perdananya di liga domestik bersama PSS Sleman pada Minggu, 28 April 2013, pertandingan berakhir dengan skor 2-0 Alam Shah mencetak gol pada menit ke-62 untuk menutup kemenangan PSS Sleman atas tamunya PPSM Magelang di Stadion Maguwoharjo.

Meski klub kebanggaan masyarakat Sleman ini hanya bermain di kasta kedua Indonesia, legenda Singapura ini sangat menikmati perannya sebagai ujung tombak klub tersebut.

Sayang, usianya yang sudah menginjak 34 tahun, menghalangi fisiknya untuk tampil prima. Cedera sering menghampirinya sehingga kontribusinya untuk Super Elja terbilang minim. Pada akhir 2014, ia memutuskan untuk kembali ke Tampines Rovers dan mengakhiri kariernya di sana.

Alam shah memiliki temperamen dan emosional tinggi. Ia pernah mendapat skorsing satu tahun dari Komisi Disiplin Asosiasi Sepak Bola Singapura karena insiden dengan sesama rekannya di Timnas Singapura, Daniel Bennett, di final Piala Singapura 2007. 

Insiden terjadi ketika lutut Alam Shah yang saat itu membela Tampines Rovers mengenai kepala Bennett yang membela SAFFC usai duel perebutan bola. 

Ketika berusaha dipisahkan, Alam Shah justru menendang kepala bek naturalisasi tersebut hingga terkapar dan dilarikan ke rumah sakit.

Karena insiden itu, Alam Shah dikenai skorsing satu tahun yang kemudian dipotong menjadi 7 bulan. Dalam masa skorsingnya, Alam Shah dipinjamkan ke klub Malaysia, PDRM FA, meski akhirnya Alam Shah tetap tidak boleh bermain karena aturan FIFA yang mengharuskan setiap klub menghormati aturan asosiasi sepak bola negara lain.

Saat berkarier di Indonesia bersama Arema, yang paling terkenal tentu insidennya meremas kemaluan bek Persela Lamongan, FX Yanuar kala kedua klub bertemu. 

Selain itu, insiden dengan Robbie Gaspar (Australia) yang terjadi dalam derby Malang antara Arema vs Persema di Stadion Gajayana Malang.

Dalam wawancara dengan salah satu media lokal Singapura, The New Paper, pada tahun 2006, Alam Shah mengaku bahwa temperamennya terbentuk saat terlibat dalam sebuah anggota gengster ketika masih kecil. 

Alam Shah memiliki julukan "along" yang dalam bahasa China dan Melayu menjadi sebutan untuk "kakak" atau "pemimpin" dalam kelompok geng Cina (triad).

Pada tahun terakhirnya sebagai pesepak bola, Along sempat membuat heboh para penggemar sepak bola di internet. 

Penyebabnya adalah sebuah berita tentang profesi sampingannya sebagai pengemudi sebuah moda transportasi daring. 

Media lokal kemudian berspekulasi bahwa itu merupakan aksi protes terselubung yang dilakukan Along atas rendahnya penghasilan pesepak bola profesional di Singapura.

Kabar terakhir menyebutkan bahwa sejak gantung sepatu pada tahun 2016, Along beralih profesi menjadi karyawan di Komoco Motors. 

Perusahaan tersebut bergerak sebagai distributor kendaraan mewah seperti Ferrari dan Harley Davidson di Singapura. 

Konon, ia memperoleh pekerjaan barunya ini berkat koneksi eks presiden klub Tampines Rovers, Teo Hock Seng, yang juga pemilik Komoco Motors.

Pada tahun 2018, Noh Alam Shah menjadi asisten pelatih Fandi ahmad untuk timnas singapura yang berlaga di piala aff 2018.

Fandi, menyanjung kinerja mantan bintang klub Liga Super Indonesia Arema tersebut. Ia menilai Noh Alam Shah merupakan sosok yang baik dan pelatih muda yang berbakat.

"Kami membutuhkan dia di tim. Dia membantu pemain muda berkembang dengan pengalamannya," ujar Fandi di Stadion Nasional, Singapura, Kamis (8/11/2018).

Menurut pria yang pernah melatih klub Indonesia Pelita Jaya itu, Noh Alam Shah memberikan nasihat dan solusi-solusi bagus untuk lini serang Singapura.

ya..., Itulah Noh Alam Shah,

Bagaimanapun juga, Along akan selalu dikenang sebagai legenda timnas Singapura sekaligus pencetak gol terbanyak sepanjang masa Piala AFF. Selain itu, ia akan terus memperoleh tempat spesial di hati pendukung Persib, PSS Sleman dan Arema.