Rochy Melkiano Putiray lahir di Maluku, Indonesia, 26 Juni 1970 merupakan pemain sepak bola legenda timnas Indonesia dengan posisi striker.
Karier sepak bolanya nyaris tak pernah dihabiskan di klub besar.
Meski memiliki darah Maluku, Rochy tak pernah bermain di klub-klub dari provinsi tersebut. Ia mengawali karier di Arseto Solo dan cukup lama merasakan kompetisi Galatama.
Pada usia yang terbilang muda, ia sudah tergabung di tim nasional Indonesia. Rochy menjadi bagian sejarah tim Merah-Putih yang sukses meraih medali emas di SEA Games 1991.
Selepas berkarier bersama Persija Jakarta pada tahun 2000, Rochy mencoba peruntungannya di Liga Hongkong.
Pada saat itu, belum banyak pemain Indonesia yang berkarier di luar negeri, selain generasi Primavera seperti Kurnia Sandy, Bima Sakti, dan Kurniawan Dwi Julianto.
Namun, Rochy memberanikan diri merantau ke negara yang sama sekali asing baginya.
Klub pertama yang menampungnya adalah Instant Dict pada tahun 2001. Setelah itu, ia pindah ke klub Hong Kong lain, Happy Valley.
Kedua klub tersebut berhasil dibawanya menjadi runner-up Liga Hong Kong. Meski demikian, Rochy memilih untuk pulang ke Indonesia membela PSM Makassar.
Di klub tersebut, penampilan Rochy gagal memenuhi harapan. Ia gagal menyaingi idola asal Timor Leste, Miro Baldo Bento.
Setahun kemudian, nama Rochy seolah menghilang. Ternyata, ia kembali ke Hong Kong untuk memperkuat South China AA, yang kemudian membawanya ke klub terbesar negeri tersebut, Kitchee SC
Nah, di sinilah cerita menggemparkan itu muncul. Pada musim panas 2004, Kitchee meladeni juara Liga Italia, AC Milan, dalam sebuah pertandingan persahabatan.
Tak disangka-sangka, klub Hong Kong tersebut memenangi pertandingan dengan skor 2-1, dengan dua gol diborong oleh pemain Indonesia ini!
Kedua gol tercipta dengan finishing mantap memanfaatkan umpan-umpan silang rekan setimnya.
Pertandingan berjalan seru meski AC lebih banyak Milan menguasai bahkan unggul lebih dulu lewat Andriy Shevchenko.
Goal tersebut tentu menjadikan tim Carlo Ancelotti banyak diunggulkan untuk menang tapi pada menit 67 setelah masuk sebagai pengganti, Rochy Putiray menunjukan kemampuannya dan memborong dua goal kemenangan serta membuat Paulo Maldini dkk tertunduk lesu usai pertandingan.
Selama 2 tahun bersama Kitchee, Rochy sukses menjadi andalan dengan sumbangan 15 gol dari 25 pertandingan.
Ia juga sering diundang memperkuat Hong Kong All Star dalam berbagai pertandingan persahabatan, salah satunya menghadapi tim nasional Denmark.
Setelah musim 2005 berakhir, Rochy menyudahi petualangannya di Hong Kong untuk kembali berkiprah di Indonesia.
PSPS Pekanbaru menjadi persinggahannya sebelum menutup karier di PSS Sleman dalam usia 37 tahun. Rochy secara resmi meninggalkan lapangan hijau pada tahun 2007 dengan catatan 17 gol untuk tim nasional Indonesia dalam 41 kali penampilan.
Tahun 2017 lalu Rochy Putiray mendapatkan penghargaan dari pemerintah.
Dia menjadi salah satu sosok legenda yang menerima penghargaan dari Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi.
Rochy Putiray mendapat penghargaan tersebut karena dianggap sebagai pemain Indonesia paling sukses di liga asing.
Dari mulai warna merah sampai kuning pun pernah dilakukan pria asal Ambon tersebut.
Selain rambut Rochy pun selalu memakai sepatu yang berbeda warna antara kiri dan kanan. Bahkan Dia juga mengenakan lengan panjang hanya di satu bagian lengan saja.
Tentu hal ini akan menjadikan orang awam sekalipun dapat mengenalinya.
Dalam hal pendidikan, pria asal ambon ini menganggap pendidikan sama pentingnya dengan sepak bola.
Rocky telah menyelesaikan studi S1 di perguruan tinggi Universitas Surakarta (UNSA), sebuah universitas swasta terkemuka di Jawa Tengah, Indonesia.
Ia juga sempat terlibat pembuatan film bertema sepak bola ‘Hari Ini Pasti Menang’ pada tahun 2012 lalu.
Usai pensiun pun Rochy Putiray tetap berkarya di sepakbola dengan mendirikan sejumlah akademi sepakbola di Solo dan Jakarta.
Selain itu, Rochy Putiray juga menangani beberapa tim artis, serta menjalani sejumlah kegiatan sepakbola di Timor Leste.
Dia juga sempat menjadi salah satu duta dari sebuah minuman ringan, dalam program pelatihan yang digelar bersama Asian Soccer Academy (ASA) Foundation. Untuk memberikan pelatihan teknik dan dasar serta pembangunan karakter dalam sepak bola.
Semoga karier gemilangnya jadi contoh bagi pemain-pemain muda Indonesia yang bermimpi berkarier di luar negeri.
https://wartakota.tribunnews.com/2018/12/05/jangan-pernah-remehkan-rochy-putiray-ini-deretan-prestasi-sepakbola-dan-bisnis-rochy-putiray?page=all
https://www.boombastis.com/mengenal-rochy-putiray/134847
https://football-tribe.com/indonesia/2017/11/26/karier-rochy-putiray/