Recent Posts

CERITA ROBERT RENE ALBERTS DAN TOPI COKLAT KESAYANGANNYA

Robert Alberts merupakan pelatih bola berkebangsaan Belanda. Ia mampu menguasai Bahasa Belanda, Bahasa Swedia, Bahasa Inggris, Bahasa Jerman... thumbnail 1 summary
Robert Alberts merupakan pelatih bola berkebangsaan Belanda. Ia mampu menguasai Bahasa Belanda, Bahasa Swedia, Bahasa Inggris, Bahasa Jerman, Bahasa Perancis, dan sedikit Bahasa Indonesia.

Dilansir dari wikipedia ia telah memiliki banyak pengalaman didunia sepak bola.

Dia merupakan mantan pelatih klub Sarawak FA Malaysia. Pada 2007, dia juga melatih tim Nasional Malaysia U-19 pada turnamen 2007 Champions Youth Cup yang juga disertai klub-klub Eropa U-19 seperti Chelsea dan Barcelona.

Saat masih aktif sebagai pemain, Robert Alberts merupakan mantan alumnus akademi sepak bola Ajax Amsterdam. Selain itu, Ia juga sempat merumput di klub Prancis, Amerika Serikat, dan Swedia.

Karier kepelatihannya terbilang panjang.

Pada 2002, Robert menjadi direktur kepelatihan di Korea Selatan. Dia juga menjabat pelatih kepala Timnas U-17 Korsel hingga 2004.

Pada 2005-2008, Robert menjadi direktur teknik FAM (PSSI-nya Malaysia). Selama memegang klub di Malaysia dan Singapura, Robert membuat timnya mempunyai rekor sebagai yang tak terkalahkan. Di Liga Malaysia 4 tahun, dan di Liga Singapura 6 tahun ia menangi semua titel kompetisi.

Iat merupakan salah satu pelatih asing yang sudah malang melintang di dunia sepak bola Indonesia.

Pelatih asal Belanda tersebut terhitung sudah menangani tiga tim besar tanah air sejak memulai debutnya di Indonesia pada 2009.

Tiga tim besar yang pernah dilatihnya ialah Arema Indonesia, PSM Makassar, dan yang kini dilatihnya, Persib Bandung.

Pertama melatih di Kompetisi Indonesia ia sukses membawa Arema Indonesia juara Liga Super Indonesia 2009-10 dan Runner up Piala Indonesia 2010.

Robert dikenal sebagai pelatih yang tegas dan disiplin. Selain itu, hal lain yang khas melekat pada dirinya adalah topi berwarna coklat yang selalu ia kenakan saat tim yang diasuhnya bertanding maupun berlatih.

Dirinya sering mengenakan kaos dan celana pendek, serta mengenakan topi visor berwarna coklat di setiap pertandingan.

Sejak melatih Arema hingga Persib, topi tersebut selalu menempel di kepala Robert. Robert mengakui bahwa topi tersebut memiliki sejarah dalam kehidupannya selama ini.

Pelatih 64 tahun tersebut bercerita, topi berwarna cokelat tersebut dibelinya saat masih bermain di Amerika Serikat.

Robert yang tergabung bersama tim Vancouver Whitecaps pada tahun 1975, kala itu sedang berlibur ke Hawai ketika akhir musim tiba.

"Lalu saya menemukan topi ini di Hawai dan saya membelinya," ujar Robert.

"Sebab, saya merasa topi ini sangat bagus, dan cocok untuk saya."

"Saya selalu mengenakan topi ini karena sangat bagus untuk melindungi wajah saya dari sinar matahari, terutama ketika ada cahaya lampu di stadion," tuturnya.

Robert tak segan mengatakan bahwa topi tersebut merupakan bagian penting dari kehidupannya. Karena, topi tersebut selalu ia pakai sejak memulai karir kepelatihan pada tahun 1984.

"Ini sudah menjadi bagian dari diri saya," kata Robert.

"Saya sangat nyaman mengenakannya dan mungkin saja membawa keberuntungan bagi saya," ujarnya.

Robert juga mengatakan bahwa dirinya sangat sayang kepada topi tersebut. Bahkan, sambil berkelakar, Robert mengatakan jika kelak dirinya meninggal, dia ingin dikuburkan bersama topi tersebut.

"Jadi nanti pada saat saya meninggal, saya akan meninggal dengan topi ini," ucap Robert.