Ada dua tragedi pahit dalam catatan sejarah sepak bola Brasil. Pertama adalah tragedi Maracanazo yang terjadi pada 1950. Kedua adalah tragedi Mineirazo yang terjadi pada 2014 lalu.
Maracanazo merujuk pada semua momen kelam yang melanda publik Brasil pada Piala Dunia 1950. Saat itu, Brasil menjadi tuan rumah dan melaju ke final. Laga puncak digelar di stadion paling penting di Brasil yakni Maracana.
Brasil wajib menang pada laga final melawan Uruguay. Publik begitu antusias dengan kiprah Zizihnho dan kawan-kawan. Maracana penuh dengan suporter. 199.854 tiket terjual habis. Namun, Brasil kalah dengan skor 1-2.
Setelah cukup lama, tragedi itu terulang. Brasil menjadi tuan rumah Piala Dunia 2014. Ada Neymar yang menjadi pilar andalan. Namun, Tim Samba harus menerima tragedi kelam kedua yang kemudian disebut dengan istilah Mineirazo.
Brasil berjumpa Jerman pada babak semifinal Piala Dunia 2014, di Estadio Mineirao, Belo Horizonte, Brasil. Pasukan Luiz Felipe Scolari punya catatan yang bagus sebelum menantang Jerman pada babak empat besar tersebut.
Pada fase grup, Brasil menang atas Kroasia dan Kamerun. Lalu, laga melawan Meksino berakhir imbang 0-0. Brasil menjadi juara Grup A dengan tujuh poin. Brasil mencetak tujuh gol dan hanya kebobolan dua gol saja dari tiga laga.
Brasil kemudian berjumpa Chile di babak 16 Besar. Tim Samba menang lewat babak adu penalti setelah bermain imbang 1-1 pada waktu normal. Brasil kemudian berjumpa Kolombia di perempat final dan menang 2-1.
Kemenangan Brasil atas Kolombia harus dibayar mahal. Sebab, Neymar mengalami cedera usai mengalami benturan dengan Juan Camilo Zuninga. Sebuah petaka yang diratapi seluruh fans Brasil ketika itu.
Neymar kemudian tidak bisa bermain di laga melawan Jerman dan dari situ petaka untuk Brasil dimulai.
Tanpa Neymar, Luiz Felipe Scolari, tidak punya banyak pilihan di lini depan Brasil. Fred dimainkan sebagai penyerang tengah seperti sejak baban penyisihan grup. Di belakangnya, ada Oscar, Hulk, dan Bernard. Posisi Nyemar sebagai winger kiri digantikan Bernard.
Duet tersebut tidak cukup tajam untuk menghadapi Jerman racikan Joachim Loew. Brasil akhirnya kalah menyakitkan dari jerman dengan skor telak 7-1 pada babak semifinal Piala Dunia 2014 tersebut.
Kalau diibaratkan perang, maka Jerman hanya butuh 10 peluru untuk bisa membuat sang raksasa Brasil terbunuh.
Sepanjang laga, Jerman melepas total 14 tembakan. Dari jumlah itu, 10 di antaranya mengarah tepat ke gawang dan tujuh bersarang dengan telak.
Brasil sendiri melepas 18 tembakan (8 on target), tapi hanya bisa sekali menggetarkan gawang Manuel Neuer.
Kemenangan gemilang oleh Jerman. Sepuluh dari 14 peluru yang mereka tembakkan tepat sasaran. Tiga bisa dimentahkan oleh lawan, sedangkan tujuh sisanya sukses menciptakan efek perusak yang luar biasa.
Pembelaan Luiz Felipe Scolari
"Perjalanan kami di turnamen ini tidak buruk. Kami mengalami kekalahan yang buruk. Dengan berbagai kesulitan, kami bisa mencapai semifinal. kami adalah tim pekerja keras, kami menang bersama dan kalah bersama," kata Scolari.
Menurut Felipao, hasil tersebut begitu di luar dugaan, bahkan bagi skuat Der Panzer sekalipun.
"Saya minta maaf tak bisa mewujudkan target kami. Fans sungguh luar biasa karena tetap mendukung kami saat sudah kebobolan lima, enam, dan bahkan tujuh," ungkap Scolari seperti dilansir situs resmi FIFA.
"Sangat tidak normal bisa kebobolan empat gol dalam enam menit, namun itu bisa terjadi. Rasanya Jerman sekalipun tak bisa mempercayai apa yang telah terjadi."
Permintaan maaf Mesut Ozil
Mesut Ozil, beberapa tahun setelah tragedi Mineirazo mengaku harus meminta maaf pada David Luiz. Mesut Ozil mengaku kaget dengan dengan kemenangan telak 7-1 saat Jerman mengalahkan tuan rumah Brasil di Piala Dunia 2014.
"Setiap orang tahu semifinal melawan Brasil, 7-1. Tentu saja semua pemain, begitu juga saya yang di lapangan, sedikit terkejut, setelah 30 menit 4-0, anda tak bisa menyadari, 'apa yang terjadi di sini?" ungkapnya.
"Bila anda kalah di sebuah pertandingan besar seperti itu di negara anda dan anda melihat fans di luar sana menangis dan para pemain menangis, anda merasakan kesedihan itu," sambungnya.
"Jadi apa yang saya lakukan, saya pergi ke David Luiz dan mengatakan, 'saya benar-benar minta maaf, anda memiliki negara yang indah dan orang-orang yang baik. Kami telah belajar di sini dan memiliki waktu yang benar-benar bagus," ucapnya.
Kejadian itu meninggalkan kesan mendalam pada David Luiz. Ozil bukannya merayakan kemenangan besar atas brazil, Tapi Dia datang untuk bersimpati dengan lawan-lawannya
David Luiz mengatakan dia seolah merasakan yang saat itu pemain Brasil rasakan.
"Dia datang kepadaku dengan hormat dan menjabat tangan saya, dan mencoba menghibur saya setelah kalah dalam pertandingan."kata pemain Brasil di situs klub.
Tindakan itu memang alami dilakukan oleh pemain sebagai pribadi dan manusia, kata Luiz, namun tak semua melakukannya.
"Dia rendah hati dan dia dapat melihat hal-hal yang berbeda saat anda memenangkan pertandingan besar, kebanyakan hanya berpikir tentang merayakan bersama"