Recent Posts

ASAL USUL SEPAK BOLA GAJAH DAN MOMEN GOL BUNUH DIRI YANG MEMALUKAN

Istilah Sepak Bola Gajah ramai diperbincangkan di berbagai media dan jejaring sosial setelah pertandingan yang mencederai sportivitas olah r... thumbnail 1 summary
Istilah Sepak Bola Gajah ramai diperbincangkan di berbagai media dan jejaring sosial setelah pertandingan yang mencederai sportivitas olah raga antara PSS Sleman melawan PSIS Semarang pada 2014 silam.

Lantas dari mana lahir istilah sepak bola gajah untuk pertama kalinya?

Sepakbola di indonesia sempat dibuat heboh dengan permainan sepakbola gajah yang dimainkan oleh PSS Sleman vs PSIS Semarang pada lanjutan babak 8 besar Divisi Utama Liga Indonesia. Keduanya saling mengalah, tak berusaha untuk memenangkan pertandingan.

Skor akhir pertandingan tersebut adalah 3-2 untuk kemenangan PSS Sleman. Namun yang membuat heboh, lima gol tersebut adalah gol bunuh diri yang sengaja dibuat oleh kedua kesebelasan. 

Baik PSS maupun PSIS sama-sama memilih untuk kalah agar menghindari Borneo FC yang di grup P menjadi runner up dibawah Martapura FC. Cara yang paling gampang adalah dengan mencetak gol bunuh diri ke gawang masing-masing.

Laga ini sendiri terasa janggal ketika para pemain tidak berniat untuk saling menyerang satu sama lain. Para pemain hanya saling mengumpan pendek di lini pertahanannya sendiri sebelum akhirnya ada sebuah upaya dari PSS untuk membobol gawangnya sendiri.

Salah satu penyerang PSIS bahkan sempat menggagalkan upaya PSS untuk mencetak gol bunuh diri. Namun setelah upaya tersebut, lima gol bunuh diri tidak terhindarkan yang mirisnya disambut dengan sorak sorai dari mereka yang mencetak gol bunuh diri tersebut.

Dalam wawancaranya kepada Metro TV, Komaedi, salah satu pencetak gol bunuh diri dari PSIS mengatakan kalau kejadian tersebut berlangsung begitu spontan. Ia juga menyebut sedang terbawa emosi dan terpaksa melakukan tindakan konyol tersebut.

“Kita gak tahu mas prediksi bisa terjadi seperti itu. Dan tiba-tiba juga terjadinya di menit-menit akhir. Kita juga spontanitas mas melakukan hal tersebut. Ya mungkin karena emosi saya aja mas. Saya emosi, saya blank, dan saya melakukan tindakan seperti itu,” tuturnya.

Pertandingan memalukan tersebut lantas mengingatkan publik sepakbola Indonesia pada pertandingan antara tim nasional Indonesia melawan Thailand pada 1998.

Kasus sepak bola gajah benar-benar merusak reputasi Tim Merah-Putih saat itu.

Mungkin masih banyak yang masih ingat kejadian pada Piala AFF 1998 ini. Ya, bila dibandingkan kiprah Timnas Indonesia pada ajang ini, insiden sepak bola gajah yang terjadi pada babak penyisihan, lebih menyita perhatian.

Sikap tidak sportif yang diperlihatkan Tim Garuda tidak hanya menyentak publik dalam negeri karena kejadian ini juga jadi perhatian di pentas internasional.

Pada laga terakhir babak grup Piala Tiger itu, kedua tim sama-sama menghindari kemenangan. Baik Indonesia maupun Thailand, keduanya sudah dipastikan lolos ke babak semi-final. Hanya saja mereka tak mau menghadapi Vietnam, tuan rumah sekaligus favorit juara Sea Games saat itu.

Indonesia sempat memimpin dua kali melalu gol Miro Baldo Bento dan Aji Santoso, namun para pemain Thailand yang mengincar hasil seri selalu bisa menyamakannya.

Hasil imbang akan membuat Indonesia menghadapi Vietnam yang menjadi runner-up grup B. Karena di saat yang bersamaan, Singapura berhasil mengalahkan Laos dengan skor 4-1 dan menjadi juara grup A. 

Saat itulah bek timnas Indonesia, Mursyid Effendi, berinisiatif untuk melakukan gol bunuh diri.

Memainkan bola di area pertahanan sendiri, bek Indonesia memberikan bola pada Mursyid Effendi yang berada di mulut gawang. 

Tanpa kompromi, Mursyid Effendi langsung melepaskan tendangan 'terukur' yang kemudian menghujam gawang Indonesia yang dikawal Hendro Kartiko. Indonesia kalah, Mursyid Effendi pun bertepuk tangan untuk dirinya sendiri.

Thailand tampil sebagai pemenang dengan skor 3-2. Sementara itu, Indonesia dan Thailand mendapat sanksi dari FIFA, sedangkan Mursyid Effendi dilarang tampil di pentas internasional seumur hidup.

Awal mula muncul istilah sepak bola gajah pertama kali mencuat pada 21 Februari 1988 pada lanjutan pertandingan grup wilayah timur kompetisi Perserikatan divisi utama musim 1987-88 ini merupakan peristiwa yang menghebohkan pada saat itu. 

Persebaya yang bermain dihadapan suporter fanatiknya di Stadion Gelora 10 November kala itu kalah saat melawan Persipura Jayapura dengan skor 0-12, namun kekalahan itu bukan murni karena ketidakmampuan tim Persebaya menghadapi tim Persipura tetapi karena memang sengaja mengalah dan kekalahan tersebut memang sudah direncanakan oleh manager Persebaya saat itu dan juga didukung sepenuhnya oleh suporter bahkan oleh seluruh warga Kota Surabaya.

Persebaya ternyata menyimpan dendam terhadap PSIS Semarang yang mengalahkan Persebaya di final Divisi Utama sebelumnya. Persebaya sengaja mengalah saat melawan Persipura sebagai bagian dari usaha untuk menjegal PSIS Semarang maju ke babak 6 kompetisi Divisi Utama PSSI 1987/1988. 

Dengan kalah margin gol yang besar akhirnya membuat Persipura menjadi 3 tim dari wilayah timur yang lolos ke babak 6 besar bersama Persebaya dan Persiba Balikpapan. 

Cara memalukan ini dilakukan Persebaya untuk membalas sakit hati mereka terhadap PSIS.

Pada musim sebelumnya, yakni pada Divisi Utama Perserikatan 1985/1986, PSIS mengandaskan impian Persebaya lolos ke partai final setelah dianggap mengalah dari PSM Makassar. Dendam inilah yang disinyalir menjadi alasan Persebaya.

Dari situlah muncul istilah sepak bola gajah. Wasit yang pemimpin pertandingan berasal dari Lampung yang merupakan tempat gajah-gajah bermain bola.

Selain itu, menjadi istilah yang masuk akal karena seperti gajah-gajah yang tak tahu harus mencetak gol ke gawang mana lantaran arah bola dikendalikan oleh pawang.