Sundulan Zinedine Zidane kepada Marco Materazzi merupakan salah satu momen paling ikonik dalam penyelenggaraan Piala Dunia 2006 lalu.
Piala Dunia 2006 merupakan salah satu edisi kejuaraan tersebut yang banyak dikenang. Bukan saja karena dalam ajang tersebut Italia mengakhiri paceklik gelar 24 tahun, tapi juga berkat adanya insiden di partai puncak ajang tersebut.
Pada pertandingan tersebut, tim nasional Italia menjadi juara Piala Dunia setelah mengalahkan Prancis dalam drama adu penalti, 5-3. Keduanya bermain imbang 1-1 setelah 120 menit. Gol penalti cepat Zinedine Zidane pada menit ke-7 membawa Les Blues unggul lebih dulu. Namun, sekitar 12 menit kemudian, bek gaek Italia, Marco Materazzi menyamakan kedudukan.
Hanya saja pertandingan ini juga dikenang dengan insiden yang melibatkan kedua pencetak gol tersebut. Gol dari keduanya seolah sudah ditakdirkan mereka akan menjadi sorotan untuk dikenang. Sayangnya, mereka dikenang karena insiden yang tak terpuji.
Seperti diketahui, dalam laga final tersebut, bintang andalan Tim Ayam Jantan, Zinedine Zidane melakukan aksi tidak terpuji dengan menanduk dada Marco Materazzi yang merupakan bek andalan Italia.
Zidane dan Materazzi terlihat sempat melakukan percakapan sebelum kemudian sang kapten Prancis melakukan aksi terkenalnya itu.
Drama antara keduanya dimulai pada babak kedua perpanjangan waktu, ketika Zidane yang tengah berjalan bersama Materazzi, berhenti di depannya dan mendadak menanduk dadanya.
Sang pengadil lapangan tidak melihat insiden tersebut dan ia hanya mendapat informasi dari asisten keempatnya. Setelah itu, Horacio Elizondo tanpa ragu memberikan kartu merah. Itu menjadi kartu merah kelima sepanjang kariernya.
Dua tahun kemudian, Zidane mengungkap dirinya diprovokasi dengan kata-kata tidak pantas yang diduga menyinggung ibunya. Ia juga mengaku sempat dihina dengan sebutan ‘anak pelacur teroris’. Namun, ia juga menyesali karena telah bereaksi berlebihan dengan kata-kata tersebut meski ia takkan menyesali tandukannya terhadap Materazzi.
“Saya bereaksi dengan buruk dan ingin meminta maaf karena banyak anak-anak yang menyaksikan pertandingan itu. Meski begitu, saya takkan menyesali tandukkan saya kepada Materazzi karena jika saya menyesalinya, maka saya akan membenarkan yang ia katakan,”
“Sebenarnya, tidak ada masalah antara saya dengan dirinya sebelum pertandingan itu. Semua bermula ketika ia memegang baju saya dan saya minta ia hentikan hal itu. Lalu saya katakan jika dia ingin baju saya, saya akan berikan setelah pertandingan. Lalu, yang terjadi kemudian adalah dia menghina saya dengan kata-kata tidak pantas yang menyinggung ibu dan adik saya. Saya coba abaikan tapi kemudian saya menghampirinya dan semua [tandukan] itu terjadi begitu cepat,” ungkap Zidane dilansir BBC Sport.
Materazzi sempat menolak tuduhan tersebut meski ia mengakui sempat berbicara kata-kata kasar kepadanya. Ia juga menegaskan tak pernah menyebut Zidane dengan sebutan teroris dan menghina ibunya seperti yang diberitakan.
“Itu merupakan hinaan yang sudah terlanjur menyebar. Saya tak pernah memanggilnya teroris. Saya bukan orang yang tak berbudaya dan sama sekali tak menyebutkan hal-hal berbau politik, ras, dan agama kepadanya. Saya juga tak pernah menghina ibunya. Saya kehilangan ibu saya saat berusia 15 tahun dan saya masih emosional jika membicarakan itu,” tegas Materazzi seperti dikutip ESPN FC.
Lebih lanjut, menurut Materazzi, Zidane bersikap provokatif saat ia memegang bajunya yang membuatnya mengeluarkan kata-kata seperti itu meski ia juga menyesali telah menghina saudaranya.
“Saya hanya memegang bajunya lalu ia merespon, `Nanti saja setelah pertandingan`. Bukankah itu sebuah provokasi? Memang betul saya merespon dengan menyinggung saudara perempuannya dan itu hal yang buruk. Saya juga tak tahu kalau dia punya saudara perempuan sebelumnya.”
14 tahun setelah insiden itu, Materazzi akhirnya membongkar detail ucapannya yang membuat Zidane mengamuk.
“Sundulan Zidane? Saya tidak menduga dia akan bereaksi seperti itu. Saya beruntung karena saya begitu terkejut dengan respons Zidane. Jika saya sudah menduga dia akan berbuat seperti itu dan saya sudah menyiapkan diri, pasti kami berdua akan sama-sama diusir,” ucapnya dilansir dari Give Me Sports.
“Dia mencetak gol untuk Prancis di babak pertama dan pelatih kami Marcelo Lippi meminta saya menjaganya. Setelah benturan pertama di antara kami, saya meminta maaf tapi dia bereaksi dengan buruk.”
“Setelah benturan ketiga, saya mengerutkan dahi kepadanya dan dia berkata, ’nanti aku akan memberimu jersey-ku.’ Saya membalas dengan mengatakan, ‘Aku tidak menginginkan jersey-mu. Aku menginginkan adik perempuanmu'," tuturnya menjelaskan.
Ucapan itu pun menyulut emosi Zidane yang kemudian menandukkan kepadanya ke dada Materazzi. Rupanya, tindakan itu kemudian menjadi tindakan terakhir Zidane dalam kariernya di lapangan hijau karena ia kemudian dikartu merah dan memutuskan pensiun setelah pertandingan tersebut.
https://www.indosport.com/sepakbola/20200504/materazzi-buka-bukaan-soal-ucapan-bengis-yang-buat-zidane-murka
https://www.panditfootball.com/on-this-day-klasik/209238/ABL/170709/insiden-yang-mengubah-hidup-zidane-dan-materazzi