Recent Posts

CERITA PENSIUN BAMBANG PAMUNGKAS : Satu Striker Langka yang dimiliki Indonesia

Peluit panjang itu telah dibunyikan, tanda pertandingan telah berakhir. Hal itulah yang mungkin lazim diketahui bagi insan sepakbola. N... thumbnail 1 summary
Peluit panjang itu telah dibunyikan, tanda pertandingan telah berakhir. Hal itulah yang mungkin lazim diketahui bagi insan sepakbola.

Namun peristiwa besar terukir saat tiupan peluit panjang dari wasit Faulur Rosy saat menuntaskan laga Liga 1 2019, Persija Jakarta kontra Persebaya Surabaya, Selasa 17 Desember 2019 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta. 

Peristiwa besar itu seolah jadi titik tuntas dari petualangan membanggakan dari karier salah satu maestro sepakbola terbesar yang pernah ada di negeri ini. Ya, legenda Merah Putih Bambang Pamungkas menemui jejak pamungkasnya di sengitnya arena lapangan hijau.

Bambang Pamungkas lahir di Semarang, Jawa Tengah, 10 Juni 1980 merupakan pemain sepak bola Indonesia yang terakhir bermain untuk Persija Jakarta di Liga Super Indonesia dan Tim nasional sepak bola Indonesia. Posisi alami nya adalah striker.

Bambang Pamungkas yang akrab disapa Bepe, merupakan anak keenam dari tujuh bersaudara pasangan H. Misranto dan Hj. Suriptinah. Bepe menikah dengan Tribuana Tungga Dewi dan telah dikaruniai tiga anak, Salsa Alicia, Jane Abel dan Syaura Abana.

Sebagai seorang tokoh terkenal publik, Bambang telah muncul dalam dukungan banyak produk. Dia juga telah menulis sebuah buku dalam bahasa Indonesia, "Ketika Jemariku Menari", berkaitan hidupnya, kariernya, dan rekan tim di klub dan tingkat nasional, khususnya selama kampanye 2010 AFF.

Mantan manajer tim nasional Indonesia Ivan Venkov Kolev berkomentar dalam buku itu Bambang adalah "Satu striker langka di Indonesia. Komitmen dan profesionalisme adalah keunggulan dari pemain lainnya dan langka di Indonesia".

Bambang dianggap memiliki header bola yang luar biasa, dan memiliki reputasi untuk ketajaman di kotak penalti.[4] Dia adalah pemain Indonesia yang paling banyak mengoleksi caps dan pencetak gol, dengan 88 caps dan 42 gol. Dia adalah pemain yang paling populer di tim nasional Indonesia.[5]

Saat masih bermain dalam tim remaja Jawa Tengah, ia pernah dinobatkan sebagai pemain terbaik Piala Haornas, sebuah kejuaraan tingkat remaja. Bambang juga pernah menjadi pencetak gol terbanyak untuk skuat Indonesia di Piala Asia U-19 Grup V, dengan 7 gol.

Ia awalnya tidak punya pikiran untuk menjadi pemain sepak bola. Dia suka membaca dan memasak, dan memiliki ambisi untuk menjadi seorang guru atau koki.

Sejak kecil, pemain yang menggunakan nomor punggung 20 di persija ini sudah menggeluti sepak bola. Bepe kecil tergabung di beberapa klub lokal sejak ia berusia delapan tahun, seperti di SSB Getas (1988-1989), SSB Ungaran Serasi (1989-1993) dan Klub Diklat Salatiga (1996-1999).

Pada tahun 1999 Ia bergabung dengan persija jakarta. Bambang menjaringkan 24 gol pada musim pertamanya di Liga Indonesia walaupun tim yang diwakilinya gagal ke babak akhir.

Saat musim tersebut berakhir, Bambang bergabung dengan sebuah tim divisi 3 Belanda, EHC Norad. Namun masalah keluarga dan kegagalan dalam menyesuaikan diri dengan cuaca sejuk Eropa menyebabkan beberapa bulan setelah itu, EHC Norad meminjamkan Bambang kembali kepada Persija sebelum kedua-dua pihak mengakhiri kontrak atas persetujuan bersama.

Musim baru di awal 2005, Bepe memutuskan untuk merumput di negeri tetangga, Malaysia, dengan membela klub Selangor FC.

Pada tahun itu dia menjadi pencetak gol terbanyak Liga Malaysia dengan 22 gol.

Di sana, Bepe sukses menyarangkan gol di pertandingan pertama ia diturunkan, yaitu partai Selangor FC melawan Malaka FC. Ia pun berhasil membawa Selangor FC memenangkan Piala FA Malaysia, Piala Malaysia dan Liga Utama Malaysia. Selama karirnya di negeri jiran itu, Bepe sukses menyarangkan 63 gol di seluruh kompetisi resmi.

Bambang Pamungkas tak hanya menjadi legenda bagi Persija Jakarta. Pemain ini juga harum bersama Selangor FA.

Setelah mengetahui Bambang Pamungkas pensiun dari lapangan hijau, Selangor FA turut menyampaikan salam perpisahan pada pemain kelahiran Semarang tersebut. Klub berjuluk The Red Giants itu pun menjadikan Bambang sebagai legenda klub.

Salam perpisahan pada Bambang Pamungkas itu diunggah melalui akun Instagram resmi milik Selangor FA. Di bagian penutup, mereka mengucapkan terima kasih pada Bepe.

“Selangor mengucapkan ribuan terima kasih kepada Bambang atas semua jasanya dan selamat menikmati masa pensiun,” tulis akun resmi Selangor FA.

Pada Musim 2007 ia kembali memperkuat Persija Jakarta di Liga Indonesia.
Pada tahun 2010 ia hendak menjalani masa trial di Selandia Baru, klub Wellington Phoenix FC. tetapi gagal untuk mengamankan kontrak.[6]

Pada 9 Desember 2013, ia menandatangani kontrak berdurasi satu tahun dengan Pelita Bandung Raya.[7] Dia mencetak 2 gol debut bagi klubnya saat melawan Persija dan pertandingan berakhir dengan hasil imbang.

Kecintaannya pada Persija, membuat Bepe mengakhiri satu tahun karirnya di PBR dan kembali bergabung dengan persija jakarta di tahun 2015 hingga 2019.

Di karir internasional, Bambang tampil pertama kali bersama timnas senior adalah pada 2 Juli 1999 dalam pertandingan persahabatan melawan Lituania. Bambang, yang saat itu baru berusia 18 tahun, berhasil menciptakan sebuah gol dalam pertandingan yang berakhir seri 2-2.

Pada tahun 2002, Bambang menjadi pencetak gol terbanyak dengan 8 gol dari 6 penampilan sekaligus membantu Indonesia menjadi juara kedua Piala Tiger 2002. Pada 10 Juli 2007, ketika pertandingan Indonesia-Bahrain, ia mencetak gol, memastikan Indonesia menang 2-1.

Saat ini Bambang menjadi pemegang rekor penampilan terbanyak (caps) dan Top Skorer untuk Indonesia dengan 77 penampilan dan 36 gol sesuai dengan pertandingan katagori A FIFA. Tetapi jika mengikutkan pertandingan Non-FIFA (termasuk melawan Klub dan Tim Nasional U-23) maka penampilan Bambang adalah 88 dengan 42 gol.

Pada tanggal 1 April 2013, Bambang Pamungkas menyatakan pensiun dari Timnas Indonesia dan di tanggal 18 desember 2019, Dia mengumumkan gantung sepatu dari sepak bola.

Bambang Pamungkas benar benar menemui jejak pamungkasnya di sengitnya arena lapangan hijau.
Momen penuh makna dan kesan mendalam itu pun terasa menggetarkan seluruh jiwa yang menyaksikan sang legenda berucap kata untuk dipenghujung jalan panjang petualangannya itu.

Pria 39 tahun itu memberikan sambutan terakhir dan mengumumkan masa pensiunnya setelah mengarungi karier sebagai pemain profesional sepakbola selama hampir 20 tahun.

Pada laga berbalut momen perpisahan itu, Bepe masuk sebagai pemain pengganti Sandi Sute di menit 76 dan gagal menghindari Persija dari kekalahan 1-2 dari skuat Bajul Ijo.

Dia memutuskan untuk pensiun karena menyadari fisiknya tidak lagi mumpuni untuk menunaikan tugas sebagai atlet sepak bola.

Menurut Bambang yang kini berusia 39 tahun, kondisi badannya berbeda dengan rekan setimnya Ismed Sofyan yang meski sudah berumur 40 tahun tetap mampu bermain penuh satu pertandingan sebagai bek kanan.

Itu pulalah yang menjadi alasan mengapa Bepe tidak gantung sepatu bersama-sama dengan Ismed.

“Harus diakui badan saya tidak bisa merespon lagi. Tahun ini cedera saya paling banyak dalam 10 tahun terakhir,” ujar pria yang akrab disapa Bepe itu di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Selasa malam, 17 Desember 2019.

“Ismed masih bisa diandalkan. Tadi ketika menuliskan pesan di bajunya, saya buat kalimat, ‘Jangan sedih, Boy. Semoga bisa bermain sampai berumur 50 tahun’,” tutur Bambang.

Terkait pensiunnya, Bepe menegaskan tidak ada kekhawatiran sama sekali dalam dirinya ketika memutuskan hal tersebut.

Sebab, Persija masih memiliki penyerang haus gol dalam diri Marko Simic yang sejauh ini sudah membuat 28 gol di Liga 1 Indonesia 2019.

Justru, pesepak bola kelahiran Semarang, Jawa Tengah, tersebut merasa lega dapat menuntaskan perjalanannya sebagai pemain aktif di lapangan hijau.

Bepe pun merasa tidak benar-benar berpisah dengan Persija karena dia selalu merasa mendapatkan dukungan dari warga Jakarta dan suporter klub The Jakmania.

“Melihat sambutan The Jakmania, saya merasa dicintai dan saya mencintai tim ini. Terima kasih kepada semua yang telah mendukung saya selama ini,” tutur dia.

“Orang bijak berkata, laki-laki sejati tidak menangis, tapi hatinya berdarah. Malam ini, ijin kan saya untuk menjadi seorang laki-laki sejati, dengan tidak banyak berbicara, agar saya tidak menangis, cukup hati saya yang berdarah,” ungkap Bepe nan menggelegar dalam momen spesial seusai laga.

“Saya pernah menjadi top skor di sini. Menjadi pemain terbaik di sini. Dan saya pernah menjadi juara di sini. Namun demikian saya juga pernah patah kaki di sini, mengalami depresi di sini, dan dianggap sebagai penghianat juga di sini,” ujar Bepe.

“Namun dalam segala kondisi yang saya alami, kalian semua ada di belakang saya Terima kasih dari hati yang paling dalam untuk kalian semua. Pemain sepakbola besar bukan seberapa jauh dia melangkah, seberapa cepat dia sampai, namun jejak apa yang dia tinggalkan,” tambahnya.