Nomor dan akronim AK-47 ini membuat namanya sedikit lebih angker karena identik dengan senjata api.
Achmad Kurniawan lahir di Jakarta, 31 Oktober 1979 merupakan anak kedua dari empat bersaudara pasangan Muhammad Khasah dan Hj. Maryani.
Pada 14 Februari 2015 AK mempersunting kekasihnya, Femilia Cinthia setelah menduda beberapa bulan. Sementara resepsi pernikahannya digelar sehari kemudian di Taman Krida Budaya Sukarno Hatta Malang.
Seperti yang sudah diceritakan oleh sang ibu Hj. Maryani. Ahmad kurniawan merupakan anak yang patuh terhadap kedua orang tua.
Sebagai pesepakbola profesional, Dia membantu menghidupi ibu serta ketiga adiknya, termasuk kiper Timnas Indonesia, Kurnia Meiga.
Berkat rezeki yang didapatnya dari sepakbola, Ahmad Kurniawan bisa memberangkatkan sang ibunda menunaikan ibadah haji tahun 2002.
Dalam perjalanan kariernya, Achmad Kurniawan sempat membela sejumlah klub di Indonesia.
Dia mengawali karier sepak bola bersama Persita Tangerang Junior sebelum diangkat ke tim senior dan bermain untuk tim berjulukan Pendekar Cisadane itu dari 2001 hingga 2006.
Setelah enam tahun bersama Persita, Ahmad Kurniawan yang akrab disapa AK itu hijrah ke Arema Malang.
Bersaing untuk bisa berada di bawah mistar gawang Singo Edan dengan Kurnia Sandy, AK membawa Arema menjuarai Copa Indonesia 2006.
Kepiawaiannya menjaga gawang Arema membuatnya dipanggil ikut dalam persiapan Timnas Indonesia menuju Piala Asia 2007. Sayangnya Achmad Kurniawan kalah saing dengan Markus Horizon, Ferry Rotinsulu, dan Jendry Pitoy.
Sempat membela Persik Kediri di tahun 2008, Achmad K urniawan kemudian mencoba peruntungan ke Sumatera untuk bergabung dengan Semen Padang pada musim 2009. Setelah performa menurun di Persik, AK pun kembali memperlihatkan permainan yang cemerlang bersama Semen Padang.
AK pun memutuskan untuk kembali ke Arema pada 2010.
Achmad Kurniawan masih tampil luar biasa ketika mendapatkan kesempatan untuk mengawal gawang Arema Cronus.
Kemampuannya cukup mumpuni melakukan penyelamatan dan jatuh bangun di bawah mistar gawang Arema.
AK juga menjadi pilihan utama di Torabica Soccer Championship (TSC) di tahun 2016.
Alasannya, kiper utama yang juga adik kandungnya, Kurnia Meiga, dibutuhkan oleh Timnas Indonesia yang akan berlaga di Piala AFF 2016. Sedangkan kiper kedua, I Made Kadek Wardana, belum kembali dari cedera lutut kaki kanan.
Meski posturnya tak terlalu ideal sebagai seorang kiper, namun dia tak gentar dalam duel udara. Kemampuanya dalam mengambil keputusan menjadi senjata utama dalam mementahkan setiap serangan lawan.
AK juga pernah mengatakan bahwa selama Arema masih membutuhkan tenaga dirinya untuk mengawal gawang, dirinya akan selalu siap untuk tampil.
Hal tersebut yang juga membuat semua pendukung Arema, yaitu Aremania dan Aremanita, sang kiper veteran bertubuh tambun akan pensiun bersama Arema.
Bek senior Bali United, Leonard Tupamahu, yang juga pernah bersama membela arema di tahun 2010, mengenang sosok Achmad Kurniawan. Dia membagi kenangannya bersama AK.
"AK jarang serius dan suka bercanda di luar lapangan. Meskipun begitu, dia tetap bisa menampilkan performa bagus di dalam lapangan," ucap Leonard kepada wartawan, di rumah duka, Jalan H Moong, Cijantung, Rabu (11/1/2017).
Sebelumnya, Leo dan AK sudah saling kenal saat turnamen tarkam. Leo menceritakan bagaimana awal mula perkenalannya dengan eks kiper Persita Tangerang itu.
"Saya mengenal AK sebelum bermain di kompetisi profesional. Saat itu, kami sama-sama membela tim Cijantung di turnamen tarkam," kata Leo.
"AK belum jadi kiper saat itu. Dia berposisi sebagai striker. Nah, yang jadi kiper itu Kurnia Meiga," tutur dia.
Meskipun keturunan Maluku, Leoo lahir dan besar di Jakarta. Sejak kecil dia tinggal di kawasan sekitar Taman Mini, Jakarta Timur, tidak jauh dari rumah AK.
Dia juga mempunyai cerita lucu tentang sang kiper tersebut.
"Saat kami latihan dan ada bola tanggung di udara, AK selalu mencairkan suasana dengan lebih dahulu menangkap kepala kami," ujar Leo
Kakak kandung Kurnia Meiga itu juga sudah banyak merasakan suka-duka bersama Arema. Meski sempat mengalami dualisme klub, Ak tetap bertahan bersama Singo Edan.
Kecintaan penjaga gawang kelahiran Jakarta itu terhadap kehidupan bersahaja dan kehangatan warga Malang, sepertinya yang membuatnya tetap bertahan.
Salah satu pertimbangan lain ia kembali ke Singo Edan lantaran adik kandungnya juga ke Arema pada 2008.
Namun, alasan utama kembalinya kakak dari Kurnia Meiga itu ke Arema adalah wasiat dari sang ayah yang memintanya untuk bermain dalam satu tim dengan sang adik di Arema. Meski kalah saing dengan sang adik, AK tetap setia bersama Arema.
Bergabung bersama Kurnia Meiga pernah diakuinya merupakan kebahagiaan terbesarnya. Ia bisa bertukar pikiran dengan sang adik, sekaligus menasihatinya sebagai kakak kandung.
AK dan Kurnia Meiga bisa dibilang punya kepribadian yang berbeda. Kurnia Meiga cenderung tertutup, sementara sang kakak amat terbuka dan bersahaja.
Jika Kurnia Meiga memiliki temperamen yang mudah sekali terpancing dan meledak, AK termasuk kiper yang cukup tenang.
Selain di Arema, Persita Tangerang juga merupakan klub yang begitu berkesan baginya. Klub berjulukan Pendekar Cisadane itu merupakan klub pertama sejak memulai karier sebagai pesepak bola profesional.
Persita merupakan klub terlama kedua yang pernah dibelanya selama enam musim. Berkat kepiawaian menjaga gawang Persita, AK menjadi kiper utama kala itu.
Ia bahkan diberikan status Pegawai Negeri Sipil oleh Pemerintahan Kabupaten Tangerang berkat kontribusinya pernah mencuatkan nama Persita di sepak bola Indonesia.
Namun, kecintaannya di Malang yang membuatnya tetap bertahan bersama Arema.
Satu hal yang pasti. Achmad Kurniawan pergi dengan melaksanakan wasiat sang ayah untuk memperkuat Arema bersama sang adik Kurnia meiga Hermansyah.
Alasannya, kiper utama yang juga adik kandungnya, Kurnia Meiga, dibutuhkan oleh Timnas Indonesia yang akan berlaga di Piala AFF 2016. Sedangkan kiper kedua, I Made Kadek Wardana, belum kembali dari cedera lutut kaki kanan.
Meski posturnya tak terlalu ideal sebagai seorang kiper, namun dia tak gentar dalam duel udara. Kemampuanya dalam mengambil keputusan menjadi senjata utama dalam mementahkan setiap serangan lawan.
AK juga pernah mengatakan bahwa selama Arema masih membutuhkan tenaga dirinya untuk mengawal gawang, dirinya akan selalu siap untuk tampil.
Hal tersebut yang juga membuat semua pendukung Arema, yaitu Aremania dan Aremanita, sang kiper veteran bertubuh tambun akan pensiun bersama Arema.
Bek senior Bali United, Leonard Tupamahu, yang juga pernah bersama membela arema di tahun 2010, mengenang sosok Achmad Kurniawan. Dia membagi kenangannya bersama AK.
"AK jarang serius dan suka bercanda di luar lapangan. Meskipun begitu, dia tetap bisa menampilkan performa bagus di dalam lapangan," ucap Leonard kepada wartawan, di rumah duka, Jalan H Moong, Cijantung, Rabu (11/1/2017).
Sebelumnya, Leo dan AK sudah saling kenal saat turnamen tarkam. Leo menceritakan bagaimana awal mula perkenalannya dengan eks kiper Persita Tangerang itu.
"Saya mengenal AK sebelum bermain di kompetisi profesional. Saat itu, kami sama-sama membela tim Cijantung di turnamen tarkam," kata Leo.
"AK belum jadi kiper saat itu. Dia berposisi sebagai striker. Nah, yang jadi kiper itu Kurnia Meiga," tutur dia.
Meskipun keturunan Maluku, Leoo lahir dan besar di Jakarta. Sejak kecil dia tinggal di kawasan sekitar Taman Mini, Jakarta Timur, tidak jauh dari rumah AK.
Dia juga mempunyai cerita lucu tentang sang kiper tersebut.
"Saat kami latihan dan ada bola tanggung di udara, AK selalu mencairkan suasana dengan lebih dahulu menangkap kepala kami," ujar Leo
Kakak kandung Kurnia Meiga itu juga sudah banyak merasakan suka-duka bersama Arema. Meski sempat mengalami dualisme klub, Ak tetap bertahan bersama Singo Edan.
Kecintaan penjaga gawang kelahiran Jakarta itu terhadap kehidupan bersahaja dan kehangatan warga Malang, sepertinya yang membuatnya tetap bertahan.
Salah satu pertimbangan lain ia kembali ke Singo Edan lantaran adik kandungnya juga ke Arema pada 2008.
Bergabung bersama Kurnia Meiga pernah diakuinya merupakan kebahagiaan terbesarnya. Ia bisa bertukar pikiran dengan sang adik, sekaligus menasihatinya sebagai kakak kandung.
AK dan Kurnia Meiga bisa dibilang punya kepribadian yang berbeda. Kurnia Meiga cenderung tertutup, sementara sang kakak amat terbuka dan bersahaja.
Jika Kurnia Meiga memiliki temperamen yang mudah sekali terpancing dan meledak, AK termasuk kiper yang cukup tenang.
Selain di Arema, Persita Tangerang juga merupakan klub yang begitu berkesan baginya. Klub berjulukan Pendekar Cisadane itu merupakan klub pertama sejak memulai karier sebagai pesepak bola profesional.
Persita merupakan klub terlama kedua yang pernah dibelanya selama enam musim. Berkat kepiawaian menjaga gawang Persita, AK menjadi kiper utama kala itu.
Ia bahkan diberikan status Pegawai Negeri Sipil oleh Pemerintahan Kabupaten Tangerang berkat kontribusinya pernah mencuatkan nama Persita di sepak bola Indonesia.
Namun, kecintaannya di Malang yang membuatnya tetap bertahan bersama Arema.
Satu hal yang pasti. Achmad Kurniawan pergi dengan melaksanakan wasiat sang ayah untuk memperkuat Arema bersama sang adik Kurnia meiga Hermansyah.